Teori Big Bang Adalah (Penjelasan Lengkapnya)

Posted on

Kehidupan di dunia yang kaya akan misteri membuat manusia berusaha untuk mengetahui jawaban atas misteri tersebut. Di dalam mencari jawaban atas misteri tersebut, Ilmu Pengetahuan merupakan salah satu sumber informasi yang mampu menjelaskan segala permasalahan yang tidak dapat mereka temui jawabannya.

Misteri akan terbentuknya alam semesta misalnya, Ilmu Pengetahuan merupakan satu-satunya sumber informasi yang mampu menjawab atas misteri sulit tersebut.Alam semesta terjadi diawali dengan peristiwa ledakan yang amat besar. Ledakan atau dentuman yang amat besar tersebut merupakan asal muasal terbentuknya alam semesta. Ledakan besar tersebut dikenal dengan istilah Big Bang.

Saat terjadinya Big Bang, alam semesta berada dalam keadaan yang panas dan dalam keadaan yang padat. Alam semesta akan terus berkembang dan terbentuk hingga saat ini. Berdasarkan dengan referensi terbaik yang pernah ada, terjadinya ledakan dasyat atau Big Bang terjadi sejak 13,7 Milyar tahun yang lalu.

Teori Big Bang Adalah (Penjelasan Lengkapnya)

Beberapa pendapat para cendikiawan mengenai Teori Big Bang

Penjelasan mengenai teori Big Bang akan semakin akurat dengan adanya pengamatan dan metode ilmiah yang dilakukan oleh para pengamat. Hasil akhir dari pengamatan tersebut akan melahirkan suatu kesimpulan mengenai pembentukan alam semesta secara konkrit. Dalam pengamatan tersebut, ada beberapa tokoh cendikiawan dan para penemu yang mendukung akan teori Big Bang. Pendapat para cendikiawan inilah yang dijadikan acuan dan sumber informasi bagi masyarakat saat ini yang ingin mengetahui seluk-beluk akan pembentukan alam semesta. Berikut ini beberapa cendikiawan yang memberikan pendapat mengenai teori Big Bang:

  • Georges Lemaitre
    Merupakan orang pertama di dunia yang mengemukakan pendapatnya mengenai teori Big Bang. Biarawan asal Belgia ini menyebutkan, asal-usul pembentukan alam semesta dikenal sebagai “hipotesis atom purba”
  • Edwin Hubble
    Mengemukaan, semua yang galaksi yang berada di alam semesta bersatu pada satu titik. Akibat ledakan yang amat besar, galaksi tersebut pecah menjadi beberapa bagian”. Pernyataan Edwin Hubble bertahan hingga saat ini dan dijadikan acuan dalam menjelaskan teori Big Bang.
  • Albert Einstein dan Richard Tolman
    Kedua penemu ini menjelaskan teori Big Bang dengan model “aalm semesta berayun”.
  • Fritz Zwicky
    Menjelaskan teori Big Bang dikenal dengan hipotesis tired light atau cahaya lelah.

Bukti pengamatan dalam menjelaskan Teori Big Bang

Ledakan dasyat atau Big Bang tergantung pada 2 asumsi yang membuktikan akan pengamatan mengenai pembentukan alam semesta. Berikut ini merupakan asumsi utama yang membuktikan akan teori Big Bang:

  • Hukum Fisika
    Hukum Fisika merupakan hukum universal yang telah dibuktikan kebenaranannya dengan melakukan beberapa percobaan dan pengamatan. Hukum Fisika membuktikan bahwa terjadinya penyimpangan pada struktur halus di sepanjang usia dari alam semesta berada pada batasan 10 pangkat -5.
  • Prinsip Kosmologi
    Prinsip Kosmologi mengatakan, bumi dan titik pengamatan dimanapun bukan merupakan posisi khusus atau penting. Prinsip Kosmologi dapat dikonfirmasi dengan pengamatan radiasi gelombang mikro kosmis.

Big Bang bukanlah sebuah peristiwa dimana materi berhamburan di seluruh alam semesta yang terlihat kosong. Ruang dimana terjadinya Big Bang merupakan titik bergerak dan mampu berekspansi dengan waktu dan jarak. Dalam mendeskripsikan ruang dan waktu tersebut, teori Big Bang dapat dijelaskan dengan metrik antara dua titik yang saling berpisah.

Titik yang dimaksud disini merupakan galaksi, bintang dan objek-objek lainnya yang ditunjukkan dengan peta koordinat. Metrik yang digunakan bersifat homogeny dan isotropis dan menggunakan skala yang besar. Metrik yang sesuai untuk menjelaskan teori Big Bang ini dinamakan dengan metrik Friedmann-Lemaitre-Robertson-Walker atau metrik FLRW. Metrik yang dilengkapi dengan skala ini mampu menentukan ukuran dari alam semesta meskipun waktu tetap berjalan hingga saat ini.

Dengan adanya metrik ini, kita dapat menciptakan system koordinat secara praktis. Koordinat segerak merupakan system koordinat yang paling praktis yang dapat dibuat hingga sekarang. System koordinat praktis ini dapat digunakan bersamaan dengan berkembangnya alam semesta. Alam semesta yang mengalami perkembangan memiliki posisi yang sejajar dengan system koordinat tersebut. Jarak dan titik pusat tetap konstan dan memiliki ketetapan yang sama dengan faktor skala dari alam semesta.

Di dalam terjadinya Big Bang, keberadaan horizon merupakan ciri penting yang berada pada waktu dentuman yang keras tersebut. Alam semesta yang berusia terbatas serta kecepatan cahaya yang terbatas membuat cahaya pada masa lalu belum sampai hingga saat ini. Hal tersebut akan memberikan kita batasan untuk mengamati suatu objek yang keberadaannya jauh dari alam semesta.

Hal tersebut juga berlaku pada cahaya yang dihasilkan oleh lingkungan kita. Cahaya tidak akan sampai pada objek yang keberadaannya jauh dari kita. Batasan cahaya tersebut dikenal dengan horizon yang membatasi kejadian di masa depan. Keberadaan horizon tersebut dapat dijelaskan secara terperinci dengan adanya model FLRW. Pemahaman akan horizon yang membatasi cahaya membuat kita buram akan masa lalu dan masa depan. Hal inilah yang membuat kita tidak dapat memantau lebih jauh akan masa depan.

Hukum hubble

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, banyak cendikiawan dan penemu yang ikut campur tangan dalam memaknai akan terjadinya Big Bang dan alam semesta. Edwin Hubble yang merupakan sosok penting dalam memaknai Big Bang mencetuskan sebuah hukum yang berkaitan dengan terjadinya Big Bang. Berikut ini merupakan hukum Hubble yang dapat Anda ketahui:

V = HoD            v = kecepatan mundur dari suatu galaksi

Ho = konstanta Hubble

D = jarak segerak

Alam semesta mengalami metrik yang berkembang dan ditunjukkan dengan menggunakan prinsip kosmologis dan Komernikus. Dari prinsip kosmologis itulah kita mengetahui jika alam memiliki gambaran yang sama di setiap tempat. Jika terlihat sebuah pergeseran merah di lokasi tertentu, hal tersebut disebabkan oleh ledakan yang berada jauh dari titik pusat.

Akibat ledakan tersebut, pergeseran merah tidak memiliki penampakan yang sama pada daerah pantauan. Prinsip Komernikus yang menyebutkan bahwa bumi bukan suatu pusat dari alam semesta. Radiasi yang tercipta akibat Big Bang merupakan awal dari pembentukan alam semesta. Alam semesta yang mengalami perkembangan metrik membuat kita tidak berdekatan langsung dengan sumber ledakan.

Hingga saat ini, teori Big Bang masih menjadi perdebatan hingga muncul gagasan-gagasan baru mengenai Big Bang. Perdebatan tersebut disebabkan oleh kesalahpahaman mengenai teori dari Big Bang itu sendiri. Kesalahpahaman atas informasi mengenai teori Big Bang inilah yang membuat lahirnya pemahaman baru yang berbeda dengan pemahaman sebelumnya.

Di tahun 2003 bahkan lahir pencetus baru yang menyebutkan bahwa teori Big Bang didirikan dengan menggunakan paradigma yang salah. Untuk memperkuat pendapatnya, Robert Gentry membuat beberapa makalah yang berisikan dengan kesalahan model Big Bang. Hal serupa juga diyakini oleh pemenang Nobel, Dr Hannes Alfven, Dr Halton Arp, Sir Fred Hoyle dan Profesor Geoffrey Burbidge yang mengemukaan pendapatnya pada sebuah siaran radio di tahun 1950.