Tata Cara Malam Pertama dalam Islam, Apa Yang Boleh dan Apa Yang Dilarang

Posted on

Diriwayatkan dari Nabi SAW : “Pintu Surga untuk rahmat akan dibuka dalam empat situasi: ketika hujan; ketika seorang anak keramahan wajah di hadapan orang tuanya; ketika pintu Ka’bah dibuka; dan ketika menikah ”. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah tadi, konsep pernikahan dalam Islam begitu sakral dan dihargai, bahwa pintu-pintu rahmat Allah Swt akan dibuka pada saat tersebut.

Memang, dalam Islam sebuah pernikahan akan melindungi sebagian besar iman seseorang dan melindunginya dari kejahatan setan, seperti yang disabdakan Nabi SAW: “Tidak ada seorang muda yang menikah selama masa mudanya , kecuali bahwa setan berteriak ‘Celakalah dia, celaka kepadanya, ia telah melindungi dua pertiga dari imannya dari saya’ oleh karena itu, seorang muslim harus memiliki taqwa untuk melindungi sepertiga sisa imannya. ”

Sehingga penting bagi setiap pasangan, ketika memulai langkah ini selalu berhati-hati untuk melindungi kesucian akad suci tersebut dan tidak mencemarinya dari awal dengan membiarkan pernikahan menjadi sumber dosa dan pemborosan. Khususnya untuk malam pertama dimana ini adalah malam suci ketika seorang pria dan wanita berkumpul sebagai suami istri. Sangat disarankan agar keduanya membina ikatan sakral tersebut dengan tujuan lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan-amalan yang disunnahkan untuk malam tersebut.

image by https://www.pinterest.com

Agama Islam sudah lengkap mengatur segala sendi kehidupan umatnya. Tak terkecuali adalah tata cara malam pertama yang juga telah diberikan aturan yang jelas dan rinci dari berbagai Hadist Nabi SAW. Hal tersebut dilakukan agar ketika melakukan hubungan intim setiap mempelai pengantin baru sesuai dengan apa yang disyariatkan Islam. Tujuannya agar tidak menyimpang dari Quran dan hadist. Termasuk adab-adab dan tata cara malam pertama dalam Islam adalah sebagai berikut :

1. Bersetubuh mesti menggunakan penutup kain atau selimut

Sebagaimana diterangkan dalam Sunnah, jika bagian dari adab bersetubuh adalah sang suami sebaiknya meminta sang istri menanggalkan seluruh pakaiannya. Namun lebih baik lagi jika sang suami lah yang menanggalkan pakaian istri. Selanjutnya suami istri bersetubuh dengan penutup kain selimut. Namun itu tak serta-merta bersetubuh tanpa penutup sama sekali tak diperbolehkan, hanya saja itu dilakukan di dalam kamar tertutup tanpa ada orang lain yang bisa melihat. Disebutkan dalam sebuah hadist Nabi SAW yang menjelaskan : “ jika kalian melakukan hubungan suami istri, maka jangan telanjang sebagaimana himar yang telanjang “

2. Mempercantik dan menghias diri sebaik-baiknya

Menjelang malam pertama dilakukan, sangat disarankan untuk mempercantik diri baik mempelai pria terlebih mempelai wanita. Itu bisa dilakukan diantaranya berhias, menggunakan parfum, dan tak lupa sikat gigi atau bersiwak jika memiliki. Menurut penjelasan salah satu hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Asma’ binti Yasid radhiyallaahu ‘anha ia menceritakan, “Aku merias Aisyah untuk Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam. Begitu selesai merias, aku pun memanggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau langsung mengambil tempat duduk di samping Aisyah. Selanjutnya disajikan kepada beliau segelas susu. Nabi shallallahu‘alaihi wasallam pun meminum susu itu dan kemudian menyerahkannya kepada Aisyah. Aisyah tertunduk malu. Oleh karena itu aku memintanya agar mengambil gelas itu dari tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR Ahmad, sanad hadits ini diperkuat oleh Al-Allamah Al-Muhadits Al-Albani dalam kitabnya Adabul Zifaf).

Sementara dianjurkannya bersiwak atau sikat gigi sebab adab itu memang dicontohkan Nabi SAW dimana beliau tak pernah lupa untuk bersiwak tiap kali akan memasuki rumah seperti yang diceritakan Aisyah radhiyallaahu ‘anha pada kitab Shahih Muslim. Di samping itu, lebih baik juga apabila menghias kamar pengantin agar malam pertama menjadi sempurna untuk menambah keromantisan dan kecintaan antar kedua mempelai.

3. Memegang kepala atas sang istri

Tata cara malam pertama dalam Islam selanjutnya adalah sang suami meletakkan tangannya di kepala bagian depan sang istri sambil berdoa untuk kebaikan. Doa yang diajarkan oleh Nabi SAW yaitu : “Ya Allah, sesungguhnya hamba meminta kepada-Mu dari kebaikannya (istri) dan kebaikan sifatnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan sifatnya.”[HR. Bukhari dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallaahu ‘anhu].

4. Mendirikan salat sunat dua rekaat

Kedua mempelai pun dianjurkan untuk melaksanakan salat dua rekaat bersama-sama. Dalam kitab Adabuz Zifaf, Syaikh Al Albani menjelaskan dua atsar yang diantaraya diriwayatkan oleh Abu Bakr Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf dari sahabat Abu Sa’id, bekas budak sahabat Abu Usaid, beliau menceritakan jika sewaktu masih sebagai budak dia pernah mengadakan sebuah pernikahan.

Dia pun mengundang beberapa sahabat Nabi SAW antara lain Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr, dan Hudzaifah. Abu Sa’id berkata, “Mereka pun mengajariku dengan berkata, ‘jika istrimu masuk menemuimu untuk itu dirikan salat sunnah dua rekaat. Mohonlah perlindungan dari Allah dari keburukan istrimu. Sesudah itu terserah engkau dan istrimu hendak berbuat apa. Mengutip sebuah riwayat Atsar lainnya Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata, “suruh istrimu salat di belakangmu.”

5. Tidak usah tergesa-gesa

Jika sang mempelai pria hendak menyetubuhi sang mempelai wanita, tidak usah tergesa-gesa, namun tunggu hingga kondisi istri betul-betul siap baik fisik dan juga mental. Dimana istri telah seluruhnya menerima sang suami menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya sejak saat itu. Suami tidak lagi dianggap orang lain. Demikian juga saat suami selesai melakukan tugasnya, tidak boleh tergesa-gesa meninggalkan sang istri hingga ia pun terpenuhi hajatnya. Maksudnya, suami wajib memperhatikan kondisi, perasaan, dan juga kemauan sang istri. Kebahagian yang akan dicapai sang suami pun diusahakan juga dapat dirasakan sang istri.

6. Dilarang bersenggama lewat dubur

Nabi SAW bersabda “Barang siapa yang menyetubuhi istrinya saat tengah datang bulan atau lewat dubur, dengan begitu dia sudah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.” [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud]. Istilah ‘kufur’ di hadits Nabi SAW tersebut menandakan sungguh besar dosa orang yang berbuat seperti itu. Kendati pendapat sebagian ulama menyatakan jika kufur yang disebutkan di hadits tersebut merupakan kufur kecil yang belum menetapkan si pelaku keluar dari Islam(kafir).

7. Jangan menceritakan apa yang terjadi di atas ranjang kepada orang lain.

Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadist, “Sesungguhnya termasuk manusia yang terjelek kedudukannya di sisi Allah di hari pembalasan yaitu suami yang mendatangi istrinya dan istrinya memberikan kepuasan kepadanya, lalu dia menceritakan rahasianya kepada orang lain.” [HR. Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallaahu ‘anhu]

Islam memang sangat indah, bahkan tata cara malam pertama pun diatur. Itu memperlihatkan sungguh besar perhatian Allah kepada para hamba-Nya melampaui perhatian hamba kepada dirinya sendiri. Mengingat hal tersebut, selayaknya tiap mulim selalu menjaga dirinya di atas fitrah agama Allah dengan mematuhi segala apa yang telah diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang. Ingat, Allah tak sekalipun menganiaya hamba-hamba-Nya.

Loading...