Pengertian Riba Fadhl dan Contohnya Yang Harus Anda Mengerti

Posted on

Pada kenyataannya, banyak muslim yang belum memahami pengertian riba fadhl dan contohnya. Pasalnya mereka lebih memahami pengertian riba secara umum, bukan dari jenis-jenisnya. Riba sendiri dalam bahasa artinya adalah kegiatan untuk mengambil keuntungan dari suatu transaksi menggunakan cara yang melanggar syari’at islam.

Riba di dalam islam adalah haram karenaa menimbulkam banyak sekali kemudharatan. Sementara Fadhl dilihat dari segi bahasa artinya adalah kelebihan atau tambahan. Berbeda dengan Nasi’ah yang artinya adalah penangguhan atau penundaan pembayaran. Riba fadhl sebenarnya adalah riba yang dikarenakan adanya kelebihan atau tambahan dalam proses pertukaran antar barang (transaksi) yang seharusnya ditukarkan berdasarkan tamatsul atau semisal.

Maksudnya adalah adanya perbedaan kuantitas dan kualitas dalam pertukaran komoditi barang ribawi meskipun sama jenisnya.Barang ribawi yang dimaksud Rasulullah adalah perak, emas, sya’ir (gandum yang masih ada kulitnya), gandum, kurma dan garam. Dalam transaksi barang-barang ribawi tersebut, ada dua ketentuan yang harus dilakukan.

Pengertian Riba Fadhl dan Contohnya

Pertama adalah tunai (serah terima barang di tempat) dan yang kedua adalah kuantitasnya sama. Dalam konteks ketentuan ini, transaksi yang ditangguhkan atau tidak tunai dikenal dengan sebutan riba Nasi’ah.Sementara barang ribawi yang ditukarkan dengan tidak setimbang disebut dengan riba Fadhl. Pada intinya, riba fadhl merupakan transaksi jual beli barang sejenis tapi ada tambahan atau lebihan dari salah satu benda ribawi yang diperjual belikan.

Sayid Sabiq berpendapat bahwa pengertian riba fadhl dan contohnya pada dasarnya mengacu pada transaksi jual beli perak, emas, atau bahan makanan sejenis tapi dengan adanya tambahan. Sementara Wahbah Zuhaily berpendapat bahwa riba Fadhl merupakan penambahan nilai atau takaran pada salah satu benda ribawi yang sejenis dan bukan dikarenakan adanya faktor penangguhan pembayaran.

Dalam istilah Riba Fadhl ada dua hal yang harus benar-benar diperhatikan. Para fuqaha bersepakat bahwa riba fadhl ini ditujukan untuk harta-harta ribawi. Sementara harta ribawi yang dimaksudkan adalah perak, emas, burr (sejenis gandum), kurma, sya’ir (sejenis gandum), garam dan anggur kering (zabib).

Para ulama tabi’in, para imam dan kalangan sahabat mengqiyaskan bahwa jenis benda atau harta apa saja yang bisa dimakan, diminum, ditakar, disimpan, dan ditimbang seperti daging, seluruh biji-bijian, madu dan minyak dan lain sebagainya masuk dalam istilah barang yang bisa diribakan. Pendapat terkait dengan barang-barang yang masuk dalam ribawi ini masih cukup banyak perdebatan.

Namun yang terpenting adalah transaksi jual beli harus sesuai dengan takaran dan nilainya serta dilakukan secara tunai dan tidak ditangguhkan karena akan masuk dalam kategori riba Nasi’ah. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan diulas terkait dengan contoh-contoh dari Riba fadhl.

Contoh-contoh dari riba fadhl

  1. Contoh Riba fadhl adalah adanya pertukaran sejenis dari barang ribawi yang disebutkan. Misalnya garam ditukar dengan garam, emas dengan emas maka timbangan atau takaran kedua barang tersebut harus sama dan ditransaksikan secara langsung atau kontan. Jika Anda membeli barang-barang ribawi tersebut dengan takaran yang berbeda dan ditempo maka hal tersebut masuk dalam kategoti riba Fadhl.
  2. Contoh riba fadhl yang sangat jelas adalah Anda menukarkan kalung emas dengan berat 15 gram dengan sebuah gelang emas dengan berat 10 gram. Walaupun gelang yang dibeli memiliki nilai seni yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kalungnya, tetap kedua benda tersebut memiliki takaran atau timbangan yang berbeda. Sehingga termasuk riba Fadhl.
  3.  Contoh lainnya adalah Anda menukarkan 15 kilogram kurma dengan berkualitas jelek dengan 10 kilogram kurma berkualitas bagus. Meskipun kualitas keduanya berbeda, tetap harus setakar dan setimbangan. Namun, agar tidak ada yang dirugikan maka tetap kurma yang bagus harus ditukar dengan yang bagus dalam takaran yang sama. Apabila tidak setakaran atau setimbang maka akan terjadi istilah riba Fadhl.
  4. Selain harus setakar, pertukaran barang ribawi sejenis juga harus dilakukan secara kontan atau tunai langsung di tempat transaksi. Apabila ada salah satu pihak yang diketahui tidak memberikan barang tersebut secara tunai walaupun takarannya sama, maka dalam islam hal tersebut masuk dalam golongan riba nasi’ah. Para ulama mengenal transaksi penundaan pemberian dan penyerahan barang ribawi tersebut dengan istilah riba yad.
  5. Contoh berikutnya yaitu pertukaran barang tak sejenis dari keenam barang ribawi dan dilakukan secara kredit. Transaksi tersebut tergolong riba. Tapi jika dilakukan secara tunai maka diperbolehkan walaupun ukuran atau beratnya tidak sama. Misalnya, Anda ingin menukar emas sebanyak 10 gram dengan perak sebanyak 30 gram. Selama kedua belah pihak rela dan menyetujuinya dengan hati ikhlas, maka semua transaksi tersebut diperbolehkan. Asalkan tetap dilakukan secara tunas. Apabila ada salah satu saja pihak yang menunda untuk memberikan barangnya, maka sudah jelas transaksi tersebut tidak boleh dilakukan.
  6. Pertukaran antara barang ribawi dengan barang lain yang bukan barang ribawi hukumnya boleh. Asalkan kontan walaupun tidak setimbang atau setakar. Misalkan perak ditukarkan dengan kayu jati dan lain sebagainya.
  7. Berdasarkan ketentuan dari Riba Fadhl, diketahui bahwa diperbolehkan menukar barang-barang di luar bawang ribawi dengan kuantitas atau ukuran yang tidak sama dan ditukarkan secara tidak kontan. Meskipun demikian, dalam pertukaran tersebut tidak boleh ada penambahan nilai atau takaran barang hanya karena jangka waktu penundaan yang bertambah. Misalnya, Anda menukarkan 5 kg kacang kedelai dengan 15 buah kelapa. Dari ukurannya saja tentu tidak setakar. Walaupun begitu tetap diperbolehkan. Selain itu, proses penyerahan barang juga boleh tidak kontan karena keduanya bukanlah barang ribawi. Tapi jika ada kesepakatan yang menunjukkan bahwa akan ada penambahan nilai atau jumlah takaran hanya karena penundaan penyerahan barang yang lebih dari tanggal yang ditentukan kedua belah pihak, maka transaksi tersebut tidak diperbolehkan karena termasuk riba Nasi’ah.
  8. Contohnya lainnya adalah Anda menjual biji-bijian atau meminjamkan uang kepada seseorang tapi dengan syarat bahwa orang tersebut wajib mengembalikan barang atau uang yang Anda pinjamkan dengan barang sejenisnya baik biji-bijian atau emas yang diberi tambahan barang semisal maka sudah jelas bahwa barang semisal yang menjadi tambahan tersebut akan menjadi riba.
  9. Contoh lainnya adalah terjadi transaksi antara emas baru dengan emas lama. Hal ini sangat dilarang karena praktik jual beli yang dilakukan pada barang ribawi berupa emas dengan emas tanpa adanya tamatsul atau kesamaan kualitas antara antara dua barang yang ditransaksikan adalah hal yang tidak diperbolehkan. Hal ini dijelaskan dalam HR. Al-Bukhari. Dimana timbangan dan kualitas antara emas dengan emas harus sama jenisnya dan dilakukan secara tunai atau kontan. Siapapun yang meminta tambah atau menambahkan maka hal tersebut adalah riba.

Bagaimana? Kini Anda sudah memahami pengertian riba fadhl dan contohnya bukan? Demikianlah ulasan kali terkait dengan riba Fadhl. Semoga menambah ilmu pengetahuan Anda tentang hal-hal apa saja yang diharamkan oleh Allah SWT.