Pengalaman Malam Pertama Taaruf dan 10 Adab-Adabnya

Posted on

Tiap individu yang berkeputusan untuk menikah biasanya melewati proses hubungan cinta terlebih dulu yang dinamakan pacaran. Saat keduanya sudah saling mengenal satu sama lain dan sudah sama-sama cocok maka berlanjut ke tahap berikutnya yaitu mengikat janji suci dalam bentuk pernikahan. Namun sebagian orang pun ada yang memutuskan menikah tanpa melalui proses pacaran, apakah akan mengalami masalah di malam pertama? Bagaimana pengalaman malam pertama taaruf yang dijalani kedua mempelai?

Pengalaman malam pertama taaruf bila kedua mempelai masih merasa kaku dan canggung, boleh jadi akan bermasalah ketika memasuki malam pertama. Jika salah satu mempelai, biasanya dari pihak wanita belum nyaman dengan kondisi malam pertama maka masalah boleh jadi akan muncul. Kendati telah resmi menikah, melakukan hubungan intim apabila belum siap pastinya tak boleh dipaksakan, lagi-lagi ini utamanya untuk mempelai wanita. Supaya masalah itu tak berkepanjangan, memang keduanya hendaklah melakukan pendekatan lebih dulu. Menempuh kehidupan rumah tangga sebagai suami istri dapat diawali dengan tak langsung berhubungan intim. Beberapa proses harus dilalui dahulu hingga kedua mempelai merasa nyaman, setelah itu bolehlah melakukan hubungan intim.

Proses pertama yaitu membangun chemistry antara suami dan istri yang bisa dilakukan dengan beberapa cara. Misalnya saja pergi berduaan, melakukan kegiatan menyenangkan berdua, makan malam, atau hanya bercengkrama berdua di rumah. Kedua mempelai harus melakukan cara-cara tersebut hingga mulai terbentuk kecocokan dan kenyamanan. Sesudah itu, berhubungan intim pun tak lagi merasa canggung atau malu. Dalam Islam, malam pertama pun ada adab-nya sesuai dengan yang dicontohkan Nabi SAW dalam beberapa hadist shahih yang diriwayatkan oleh para ahli hadist. Adab selama malam pertama taaruf ada sepuluh hal yang selengkapnya adalah sebagai berikut :

image by https://www.soundvision.com

1. Mempelai pria mengucap salam

Malam pertama merupakan malam dimana mempelai pria dan mempelai wanita untuk pertama kali berhubungan intim. Keduanya sudah sah untuk berbuat apa saja namun tetap dalam koridor aturan syari’at. Hal ini dilakukan untuk kebaikan keduanya, salah satunya supaya nantinya anak yang dilahirkan dari hasil hubungan itu selalu mendapat keberkahan dan perlindungan dari Allah subhanahu wata’ala. Nah, adab pertama dari malam pertama taaruf adalah mempelai pria sebaiknya mengucapkan salam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh) kepada mempelai wanita. Perbuatan ini sesuai dengan yang dilakukan Nabi SAW kepada istri-istrinya

2. Mempelai pria memulainya dengan bercanda dan mengobrol dulu

Disunnahkan bagi mempelai pria di malam pertama tersebut bercanda dan mengobrol ringan dengan mempelai wanita supaya suasananya tak kaku. Sang suami bisa memulainya dengan menyodorkan minuman atau yang lain. Ini pun sesuai dengan contoh dari Nabi SAW yang memberikan segelas susu yang sebelumnya sudah diminum beberapa teguk kepada istri beliau Aisyah ra.

3. Mempelai pria memegang bagian kepala atau kening mempelai wanita

Mempelai pria setelah meletakkan tangan kanannya di kening atau kepala mempelai wanita sambil memanjatkan doa seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari : “Allahummaa innii as-aluka min khairihaa wa khairi maa jabaltahaa alaihi Wa ‘audzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarri maa jabaltahaa alaihi” yang artinya : “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk kebaikan dirinya dan kebaikan tabiat yang dia bawa. Dan aku berlindung dari keburukannya (kejelekannya) dan keburukan sifat yang dia bawa.”

4. Mendirikan salat sunnah dua rakaat

Adab selanjutnya dari malam pertama taaruf adalah mempelai pria mengajak mempelai wanita untuk mendirikan salat sunnah dua rakaat. Hal ini pun sesuai dengan hadist yang diriwayatkan kalangan salafus shalih. Ada kebaikan dari melaksanakan salat sunnah sebelum bersenggama yaitu akan membuat tenang hati kedua mempelai sekaligus juga menurunkan ketegangan.

5. Kedua mempelai disunnahkan sikat gigi atau siwak

Dianjurkan pula untuk kedua mempelai supaya sikat gigi atau bersiwak saat akan akan berhubungan intim. Selain melaksanakan sunnah sesuai yang dilakukan Nabi SAW, dengan bersikat gigi pun akan menambah rasa percaya diri dengan bau mulut yang segar saat berciuman atau mengobrol.

6. Berdoa sebelum bersenggama

Sebelum melakukan persenggamaan pun dianjurkan untuk berdoa yang dalam hal ini dilakukan oleh mempelai pria. Sementara mempelai wanita harus mengingatkan jika suami kelupaan melakukannya. Doa yang bisa dibaca sesuai hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim yaitu : “Dengan menyebut nama Allah, Yaa Allah, jauhkanlah aku dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang akan Engkau berikan kepada kami.” Nabi SAW bersabda: “Maka, jika Allah menetapkan atau menakdirkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya setan tak akan mencelakakan dan membahayakannya untuk selamanya.”

7. Mempelai pria diperkenankan menyetubuhi Istri menggunakan teknik apapun

Mempelai pria bebas menyetubuhi sang mempelai wanita dengan cara bagaimana saja yang diingini akan tetapi cuma di organ intimnya saja. Dalam surah Al Baqarah ayat 223 Allah berfirman : “Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam (ladang bagimu), untuk itu datangilah tanah tempat bercocok-tanammu(ladang) tersebut sebagaimana saja kamu inginkan (setiap saat kamu ingin). Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa engkau kelak akan menemui-Nya.

Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” Sebab turunnya ayat tersebut sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu yang mengatakan, “Pernah suatu saat Umar Ibnu Khattab menjumpai Nabi SAW, sambil berkata, “Ya, Nabi, celaka aku. “Beliau Nabi SAW lalu berkata, “Apa yang membuatmu celaka, wahai Umar ibnu Khattab?” Umar ibnu Khattab lalu menjawab, “Aku membalikkan pelanaku tadi malam”. Akan tetapi Nabi SAW tak menjawab pertanyaan tadi. Hingga diturunkan ayat 223 surah Al Baqarah di atas. Selanjutnya, Nabi SAW berkata, “Gauli atau Cumbuilah istrimu dari arah depan atau belakang. Namun jauhi atau dilarang menggaulinya dari dubur atau saat ia lagi menstruasi.”

8. Ketika mempelai wanita menstruasi

Saat sang mempelai pria menghendaki bersetubuh dengan mempelai wanita akan tetapi ternyata ia sedang mendapat datang bulan tetap diperbolahkan bercumbu asalkan tak ditujukan di bagian kemaluan dan dubur. Perkara tersebut berdasarkan hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud yang dibawakan oleh sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.: “Lakukanlah apa saja selain jima’ atau bersenggama.”

9. Bebas kapan pun menginginkan

Diperkenankan bagi mempelai pria untuk menyetubuhi mempelai wanita sewaktu-waktu saat ia menginginkannya. Dan istri pun tak boleh menolaknya bila ia memang tak sedang haid.

10. Bilamana mempelai pria hendak menambah berjima

Bilamana sang mempelai pria hendak menambah berhubungan intim setelah senggama yang pertama untuk itu dianjurkan agar mengambil wudhu terlebih dulu. Hal ini selain sebagai pelaksanaan sunnah juga akan menambah kesegaran tubuh dan mengembalikan tenaga sebelum memulai bersetubuh untuk kedua kalinya. Setelah ritual berhubungan intim selesai dan ingin tidur, dianjurkan pula untuk mandi wajib lebih dulu.

 

Loading...