Pendiri Kerajaan Kutai Kartanegara dan Sejarahnya Lengkap

Posted on

Kerajaan Kutai atau dikenal sebagai Kesultanan Kutai Kertanegara ing Martadipura merupakan sebuah kerajaan bercorak Islam yang telah berdiri sejak tahun abad ke-13. Kerajaan Islam ini didirikan oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti di daerah Kutai Lama atau Tepian Batu.

Kerajaan Kutai Kertanegara juga sering disebut sebagai Kerajaan Tanjung Kute di dalam Kakawin Nagarakertagama. Kerajaan Kutai Kertanegara sendiri berhasil menaklukan Kerajaan Mulawarman di bawah pimpinan Raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa pada abad 16.

Sebagai bentuk peleburan diantara dua kerajaan, Raja Kutai kemudian memberi nama kerajaan dengan nama Kerajaan Kutai Kertanegara ing Martadipura. Agama Islam semakin berkembang dengan adanya campur tangan dari Tuan Tunggang Parangan di abad ke-17. Sebutan Raja tidak digunakan lagi bagi para penguasa Kerajaan Kutai sejak saat itu. Kesultanan Kutai Kertanegara menjadi nama Islami dari Kerajaan Kutai Kertanegara ing Martadipura.

Pendiri Kerajaan Kutai Kartanegara dan Sejarahnya

Sistem pemerintahan yang dijalankan kerajaan kutai kertanegara

Dalam sistem pemerintahan yang dijalankan oleh Kerajaan Kutai Kertanegara, Raja atau Sultan membawahi mangkubumi. Jabatan mangkubumi biasanya diduduki oleh anggota terdekat raja atau sultan. Tugas mangkubumi ini sendiri sangatlah penting, ia bertugas dalam mewakili raja atau sultan saat ia tidak dapat datang pada acara penting.

Keberadaan mangkubumi dalam situasi ini setara dengan kedudukan seorang pangeran yang belum beranjak berusia 21 tahun. Kedudukan yang sama dengan mangkubumi adalah majelis yang berisikan dengan orang besar dan bijaksana. Selain mengerti akan adat istiadat kerajaan, orang-orang besar tersebut harus paham akan pembuatan peraturan yang nantinya akan diajukan kepada raja atau sultan.

Menteri Kerajaan Kutai Kertanegara bertugas sebagai seorang mediator yang menengahi permasalahan raja dengan mangkubumi, punggawa, petinggi dan rakyat Kerajaan Kutai Kertanegara. Sama halnya dengan mangkubumi, para Menteri yang menjabat merupakan orang-orang terdekat raja atau mereka yang memiliki darah bangsawan.

Ketetapan tersebut telah ditulis di dalam Panji Salaten yang merupakan Undang-Undang Kerajaan Kutai Kertanegara. Menteri bertugas menjalankan semua perintah raja atau sultan dan mangkubumi, menghukum para penghianat kerajaan, pemberi nasehat kepada raja atau sultan, menyanggah pendapat para penjahat dan menjalankan hukum dengan bijak. Di bawah Menteri, Senopati bertugas dalam menjaga ketentraman kerajaan, sebagai pelaksana acara-acara adat, menjalankan semua tugas yang diberikan oleh raja, mangkubumi dan para menteri.

Di dalam perkampungan diketuai oleh Punggawa. Kedudukan Punggawa sendiri dapat disejajarkan dengan senopati. Yang membedakan antara senopati dan punggawa adalah hubungannya dengan rakyat. Punggawa lebih dekat dan terlihat langsung dengan rakyat Kerajaan Kutai Kertanegara. Sedangkan untuk posisi terendah di kerajaan atau kepada desa. Jabatan kepada desa diberikan bagi mereka yang berjasa bagi kerajaan. Kepada desa bertugas sebagai penyalur aspirasi para rakyat yang nantinya akan disampaikan kepada punggawa. Dari punggawa inilah, aspirasi rakyat akan sampai hingga kedudukan di atasnya.

Berakhirnya kerajaan kutai kertanegara

Semenjak masa Aji Muhammad Parkesit, kekuasaan kerajaan semakin terganggu dengan kedatangan Kolonial Belanda dan Jepang. Perjanjian akan penarikan pajak dan hak dalam monopoli dagang membuat keberadaan Kerajaan Kutai Kertanegara semakin terganggu. Kedudukan kerajaan bahkan semakin hilang saat masa kemerdekaan Republik Indonesia.

Keberadaan Kerajaan Kutai Kertanegara semakin hilang secara perlahan. Kerajaan yang berubah menjadi Daerah Istimewa, berubah lagi menjadi Daerah Swapraja dan berakhir sebagai Kabupaten. Wilayah yang semakin menyempit dan kepala pemerintahan yang tidak dapat dilakukan secara turun temurun lagi membuat posisi raja tidak penting lagi seperti sedia kala.

Tanggal 27 Desember tahun 1949, Dewan Kesultanan memutuskan untuk bergabung dengan Republik Indonesia Serikat. Sejak bergabungnya kesultanan tersebut, Kerajaan Kutai Kertanegara berubah menjadi Daerah Istimewa Kutai dan menjadi Kabupaten pada tahun 1953. Berdasarkan dengan Undang-Undang Nomor 27 tahun 1959, Daerah Istimewa Kutai dibagi menjadi tiga bagian, diantaranya:

  • Daerah Tingkat II Kutai yang beribukota Tenggarong
  • Kotapraja Balikpapan yang beribukota di Balikpapan
  • Kotapraja Samarinda yang beribukota di Samarinda

Faktor penyebab puntuhnya kerajaan kutai kertanegara

Sama halnya dengan kerajaan yang lain, Kerajaan Kutai Kertanegara berakhir akibat beberapa sebab. Faktor-faktor tersebut membuat Kerajaan Kutai Kertanegara tidak dapat berdiri lagi hingga saat ini. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Kutai Kertanegara:

  1. Kurangnya usaha kerajaan dalam melakukan integrase dengan rakyatnya
    Seorang raja yang biasanya dijunjung dan dijadikan tempat untuk menyalurkan keinginan rakyat tidak dapat melakukan sesuatu akibat banyaknya tekanan yang disebabkan oleh Kolonial Belanda. Sisa pendapatan kerajaan hanya digunakan untuk memenuhi anggota keluarga saja. Rakyat menderita dan semakin tidak suka akan tindakan rajanya.
  2. Tuntutan penghapusan Swapraja
    Tindak tanduk raja yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan anggota keluarganya saja membuat rakyat semakin tidak suka dengan kerajaan. Akibatnya, rakyat lebih bersimpati dengan Republik Indonesia dibandingkan dengan Kerajaan Kutai Kertanegara.

Silsilah kerajaan kutai kertanegara

Dalam mengenal sejarah Kerajaan Kutai Kertanegara, ada baiknya kita mengenal akan silsilah Kerajaan Kutai Kertanegara dimulai dari pemimpin pertama kerajaan hingga saat ini. Berikut ini merupakan silsilah Kerajaan Kutai Kertanegara secara lengkap:

  • Tahun 1300-1325 – Aji Batara Agung Dewa Sakti
  • Tahun 1325-1360 – Aji Batara Agung Paduka Nira
  • Tahun 1360-1420 – Aji Maharaja Sultan
  • Tahun 1420-1475 – Aji Raja Mandarsyah
  • Tahun 1475-1545 – Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya
  • Tahun 1545- 1610 – Aji Raja Mahkota Mulia Alam
  • Tahun 1610-1635 – Aji Dilanggar
  • Tahun 1635-1650 – Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa ing Martapura
  • Tahun 1650-1665 – Aji Pangeran Dipati Agung ing Martapura
  • Tahun 1665-1686 – Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma ing Martapura
  • Tahun 1686-1700 – Aji Ragi Gelar Ratu Agung
  • Tahun 1700-1710 – Aji Pangeran Dipati Tua
  • Tahun 1710-1735 – Aji Pangeran Anum Panji Mendapa ing Martapura
  • Tahun 1735-1778 – Aji Muhammad Idris
  • Tahun 1778-1780 – Aji Muhammad Aliyeddin
  • Tahun 1780-1816 – Aji Muhammad Muslihuddin
  • Tahun 1816-1849 – Aji Muhammad Salehuddin
  • Tahun 1850-1899 – Aji Muhammad Sulaiman
  • Tahun 1899-1910 – Aji Muhammad Alimuddin
  • Tahun 1920-1960 – Aji Muhammad Parikesit
  • Tahun 1999 hingga sekarang – Haji Aji Muhammad Salehuddin

Peninggalan dari kerajaan kutai kertanegara

Peninggalan sebuah kerajaan membuktikan bahwa sebuah kerajaan terkemuka pernah berdiri di tanah air. Salah satu kerajaan yang memberikan peninggalan sejarah bagi rakyat Indonesia adalah Kerajaan Kutai Kertanegara. Dari banyaknya peninggalan Kerajaan Kutai Kertanegara yang ada, ada 14 peninggalan kerajaan yang masih ada hingga saat ini. Berikut 14 jenis peninggalan Kerajaan Kutai Kertanegara yang dikenal hingga saat ini:

  • Prasasti Yupa
    Prasasti Yupa merupakan peninggalan paling tua yang dimiliki oleh Kerajaan Kutai. Hingga saat ini ada tujuh prasasti Yupa yang masih berada dalam keadaan yang baik.
  • Ketopong Sultan
  • Kalung Ciwa
    Kalung Ciwa merupakan kalung yang biasa digunakan oleh para raja saat mengunjungi acara-acara resmi.
  • Kalung Uncal
  • Kura-Kura Emas
  • Pedang Sultan Kutai
  • Tali Juwita
  • Keris Bukit Kang
  • Kelambu Kuning
  • Singgasana Sultan
  • Meriam
  • Tombak Kerajaan Majapahit
  • Keramik kuno Tiongkok
  • Gamelan Gajah Prawoto