9 Mitos Jawa Tentang Pernikahan yang Biasa Terdapat di Masyarakat

Posted on

Mitos masih sangat kental dan melekat di masyarakat Jawa mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Mitos adalah kepercayaan terkait kehidupan masyarakat yang dipercaya secara turun temurun. Tidak ada yang tahu persis mitos berasal dari nenek moyang jaman apa dan namanya siapa.

Mitos begitu eksis di masyarakat dari dahulu sampai sekarang yang pengajaran hanya melalui mulut ke mulut yang disampaikan dari orangtua ke anak cucunya. Mitos dapat berupa bentuk larangan, anjuran , dan lain lain. Salah satu mitos yang diyakini masyarakat Jawa sampai saat ini yaitu mitos Jawa tentang pernikahan.Ada berbagai mitos Jawa tentang pernikahan yang masih diyakini dan dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Jawa.

Meskipun dari berbagai mitos yang ada dapat dirasional secara ilmiah dan ada yang tidak. Akan tetapi, hal tersebut memang sudah mendarah daging di hati para orang Jawa sehingga mau tidak mau kita harus mengharga kepercayaan yang ada. Adapun berbagai mitos tentang pernikahan adalah sebagai berikut.

Mitos Jawa tentang Pernikahan yang Biasa terdapat di Masyarakat

1. Larangan anak sulung menikah dengan anak ketiga 

Mitos jawa terkait pernikahan yaitu adanya larangan seoarang anak sulung menikah dengan anak ketiga. Berdasarkan kepercayaan masyarakat yang diperoleh dari warisan nenek moyang ketika hidup dahulu bahwa anak pertama yang menikah dengan anak ketiga akan mendapatkan bahaya malapetaka.

Hal tersebut dipercayai masyarakat sehingga bagi orang yang percaya tidak akan mengizinkan anak sulungnya menikah dengan anak ketiga demi keselamatan keluarga dan kelanggengan keluarganya.Ada boleh percaya boleh tidak karena itu kenyataan yang ada di masyarakat.

2. Tidak boleh makan didepan pintu 

Mitos kedua yaitu tidak boleh makan di depan pintu karena akan menyebabkan susah di lamar. Hal tersebut sampai sekarang masih di anut masyarakat sehingga masyarakat Jawa tidak pernah makan di depan pintu. Selain susah mencari jodoh, makan di depan pintu akan menyebabkan rejeki kabur. Jika kita rasionalkan, tentang larangan makan di depan pintu memang ada benarnya karena memang tidak sopan bila makan di depan pintu.

Selain itu, terkesan menghalangi tamu yang akan masuk untuk bertamu. Tamu yang masuk dimungkinkan akan memberikan kabar gembira maupun membawa rejeki dan jodoh. Oleh karena itu, mitos untuk makan di depan pintu dapat dipercayai dan dilakukan oleh generasi muda untuk menjaga kesopanan dan etika dalam makan.

3. Larangan menikah pada bulan syura 

Bulan yang terdapat pada kalender Hijriyah masih banyak digunakan oleh masyarakat untuk menghitung hari yang pas untuk melakukan suatu hal termasuk pernikahan. Pada umumnya, masyarakat mempercayai bahwa menikah pada bulan Syura sangat dilarang. Karena menikah pada bulan tersebut dapat menyebabkan petaka pada pasangan pengantin tersebut.

Menurut, kepercayaan yang beredar di masyarakat bahwa bulan Syura pada penanggalan tahun Hijriyah merupakan bulan yang sangat rawan terhadap hal buruk dan waktu pesta bagi penghuni laut selatan. Hal tersebut terkesan sangat kuno dan dongeng semata yang tidak ada benarnya tetapi masyarkat sangat menjaga kebiasaan pada bulan Syura yaitu larangan untuk menikah.

4. Seorang anak tunggal diharuskan ruwat untuk menghindari berbagai kesialan 

Mitos berikutnya terkait pernikahan yaitu seoranmg akan tunggal harus diruwat untuk menghindari berbagai kesialan. Mitos terkait ruwat pada anak tunggal masih dilakukan oleh masyarakat Jawa khususnya pedesaan. Kita tidak bisa menghapuskan dan menyalahkan kebiasaan turun temurun tersebut meskipun tidak ada kebenaran secara ilmiah.

Cara yang paling aman dan mudah yaitu menghargai dan toleran terhadap berbagai ragam budaya yang masih dijaga oleh masyarakat. Jika bukan masyarakat yang menjaga warisan budaya nenek moyang siapa lagi.

5. Pendidikan wanita yang semakin tinggi menyebabkan keinginan menikah semakin rendah 

Mitos yang kelima tentang seorang wanita yang memiliki pendidikan tinggi maka kesemapatan menikahnya menjadi rendah. Hal tersebut tidaklah benar, karena sekarang banyak orang yang berpendidikan tinggi justru banyak yang menikah muda. Akan tetapi tidak semua wanita berpendidikan tinggi mau menikah muda karena memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi dan bekal secara financial belum mencukupi.

Keinginan seorang wanita yang berpendidikan tinggi dan berpendidikan kurang tinggi tentang menikah berbeda-beda. Karena , seorang wanita yang berpendidikan tinggi ingin menyiapkan yang terbaik untuk masa depan keluarganya nanti sehingga lebih fokus pada karier setelah selesai menuntut ilmu. Hal tersebut ada benarnya juga, karena kebahagiaan sebuah keluarga juga ditunjang oleh keadaan finansial pasangan. Persiapkan masa depan Anda dengan sebaik mungkin agar keluarganya nanti terjamin secara pendidikan, finansial dan sarana prasarana menunjang perkembangan anaknya kelak.

6. Larangan memakai baju berwarna merah saat takziah 

Orang Jawa masih sangat menjunjung tinggi kesopanan dan etika termasuk dalam hal berpakaian. Mitos yang ada di masyarakat terkait penggunaan baju ketika takziah harus berwarna gelap untuk menghargai keluarga yang sedang berbela sungkawa.

Oleh karena itu, masyarakat Jwa ada larangan memakai baju yang berwarna cerah dan mencolok seperti warna merah. Karena warna merah merupakan warna yang sangat menarik perhatian bagi orang yang melihatnya. Jika ada orang yang memakai baju warna merah saat takziah menunjukkan kurang mengharga pihak keluarga yang sedang berduka cita.

7. Menghindari membangun rumah tusuk sate 

Seseorang yang ingin menikah dan berencana membangun rumah sendiri perlu tahu mitos rumah tusuk sate yang harus dihindari. Bagaimana maksudnya? Rumah tusuk sate merupakan rumah yang terdapat dibagian paling ujung jalan dan menghadap ke jalan dan arah rumah berbeda dengan arah rumah yang lainnya.

Karena, menurut mitos di masyarakat Jawa akan rumah yang posisinya tusuk sate akan menyebabkan kesialan. Benarkah demikian? Tidak ada penelitian terkait mitos tersebut sehingga antara percaya tidak percaya hak Anda.

8. Pernikahan menguntungkan pihak pria dibandingkan wanita 

Mitos jaman dahulu tentang makna pernikahan yang menganggap bahwa pihak lelaki yang paling diuntungkan daripada wanita. Hal tersebut merupakan pemikiran yang masih sangta sempit. Karena, sekarang sudah terdapat kesamaan atau kesejajaran waniat dan laki-laki termasuk dalam hal hak dan kewajiban dalam berumah tangga. Pihak lelaki dan wanita memiliki hak dan keuntungan yang sama.

9. Tingkat kepuasan pasangan suami istri dalam berhubungan badan lebih rendah 

Mitos berikutnya terkait pernikah yaitu tingkat kepuasan pasangan suami istri dalam berhubungan badan lebih rendah. Hal tersebut tidaklah benar, karena seseorang yang sudah menikah akan memiliki kehidupan hubungan badan yang lebih baik daripada orang yang belum menikah. Pasalnya, orang yang sudah menikah dapat melakukan hubungan badan dengan pasangan yang dicintainya.

Hal tersebut membuat pasangan suami istri lebih bahagia. Sekian info tentang berbagai mitos yang diyakin masyarakat Jawa terkait pernikahan. Berbagai mitos tersebut terkesan aneh dan fiktif karena sebagian besar susah dinalar secara rasional. Bagi Anda yang percaya pasti lebih berhati-hati dalam sikapnya. Karena biasanya di dalam mitos Jawa banyak hal yang dilarang di dalam mitos. Meskipun ketika hal tersebut tidak dilakukan terjadi suatu malapetaka atau tidak hanya Tuhan yang tahu. Anda dapat menilai mana yang benar dan mana yang tahayul dengan