Kisah Sahabat Nabi Tentang Sholat Berjamaah Yang Perlu Diteladani

Posted on

Menjadi seorang muslim yang memeluk agama Islam, tentu saja memiliki sebuah kewajiban untuk menunaikan ibadah berupa sholat fardhu yang dilaksanakan pada waktu Subuh, Dzhur, Ashar , Maghrib dan Isya. Sebuah kewajiban yang tidak boleh unutk ditinggal sekalipun oleh umat muslim dalam keadaan yang terkecuali. Misalnya, seroang wanita yang sedang dalam keadaan tidak suci, sehingga diperbolehkan untuk tidak sholat dan tidak ada yang bisa mmenggantikan sholat fardhu ini. Yang mana hal ini berbeda dengan puasa Ramadhan yang bisa diganti di waktu kapan saja selain bulan Ramadhan itu sendiri.

Kemudian ada juga ketntuan-ketentuan lain yang sudah dijadikan sebagai landasan umat muslim untuk melaksanakan sholat ataupun tidak diperbolehkan melaksanakan sholat.Mendidik Anak sejak dini, menjadi sebuah hal terpenting mengenai atat aturan sholat. Mislanya bagaimana cara sholat, bagaimana ketentuan sholat yang termasuk di dalamnya syarat-syaratnya. Sehingga dengan membiasakan kebiasaan ini semenjak masih usia dini diharapkan anak akan memiliki sebuah tanggug jawab yang lebih di dalam menjalankan ibadahnya. Dimana ibadah itu akan dibawa sampai mati sampai dirinya berada di akhirat sekalipun.

Sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah SAW bahwa sholat yang diwajibkan dan telah disyariatkan dari Allah SAW adalah sholat fardhu yang jumlahnya ada lima. Dengan tiap-tiap sholatnya memiliki rakaat yang berbeda. Sholat yang wajib dilaksanakan oleh umat muslim adalah sholat yang tidak ada gantinya dan tidak bisa diganti di waktu yang lain. Adapun di dalam artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai sebuah kisah sahabat nabi tentang sholat yang mengandung banyak hikmah di dalamnya.

image by http://world-visits.com

Dalam sebuah kisahnya, dimana telah dituliskan pula dan diriwayatkan dalam hadist. Nabi memiliki sahabat yang bernama Abdullah Ibnu Ummi Maktum. Dimana beliau ini adalah sahabat nabi yang mengalami buta. Menjadi seorang yang buta tentu saja bukan menjadi sebuah alasan untuk tidak menjalankan syariat yang masuk dalam kategori wajib ini. Meskipun beliau mengalami kebutaan, beliau tidak pernah absen dalam menjalankan ibadah wajib yang satu ini. Dimana setiap kali beliau ingin menjalankan ibadah sholat selalu saja emndapat sebuah kemudahan dari Allah SWT.

Bahkan dia juga tidak pernah mengeluh untuk belas kasihan kepada orang lain atas apa yang dialaminya itu. dia selalu kuat dalam menjalani berbagai tantangan kehidupan yang datang kepadanya. Ya, meskipun keterbatasan ini adalah sebuah hal yang tidak semua orang bisa menangani dan menjalani kehidupannya dengan maksimal, kejadian ini tidak membuat sahabat nabi ini untuk berputus asa. Justru atas ujian yang datang kepadanya itu justru semakin membuatnya menjadi bertambah keimanannya. Dengan begitu Ia menjadi semangat dan lebih taat dalam menjalankan perintah dari Allah SWT. Bahkan meskipun begitu tidak melunturkan kesetiannya sedikitpun terhadap keislaman yang dijalaninya itu.

Ia tetap meringankan kakinya untuk berangkat menuju masjid dengan ringan kaki dan hati. Guna menjalankan ibadah sholat berjamaah. Tidak hanya itu, sahabat ini juga menghafalkan Al-Quran dan Hadist serta berjihad di jalan-Nya. Jadi, tidak ayal apabila Allah SWT memuliakan dirinya. Dimana dengan segala keterbatasan yang ada itu, tidak menjadikan ia semakin kesulitan dalam menjalankan ibadah sholat dan ibadah yang lainnya. Namun, justru semakin diberikan kemudahan oleh Allah untuk mejalankan ibadah kepada Allah. Bahkan ada dua surat yang dari Al-Quran yang turun dengan istimewa atas peristiwa yang terjadi kepada sahabat nabi ini.

Dalam kisah sahabat nabi tentang sholat ini beliau, sahabat nabi yang bernama Abdullah ini selalu bangun ketika waktu fajar tiba. Tak ada satupun hal yang menghalangi dirinya untuk beribadah. Dimana ia akan bertopang dengan menggunakan sebuah tongkat. Dan juga beliau akan besandar pada lengan seorang muslim yang liannya. Bahkan usahanya yang ia lakukan agar sampai di masjid adalah dengan cara merangkak agar dirinya bisa sapai di masjid. Beliau sama sekali tidak ragu dan juga tidak malu atas usaha yang dilakukan ini demi sampai di tempat tujuannya.

Bahkan suatu ketika pernah terjadi sebuah kejadian, dimana saat Ibnu bergegas menuju ke masjid, di jalan ia terjatuh karena kakinya tersandung oleh batu. Sehingga memunculkan luka di kakinya. Namun, hal ini tidak mematahkan niat dari Ibnu Ummi untuk pergi ke masjid. Sehingga Beliau tetap berangkat menuju ke masjid demi menunaikan ibadah sholat berjamaah bersama dengan muslim yang lainnya.

Ummi tahu, bahwa sholat berjamaah akan jauh lebih baik daripada sholat yang ia jalankan sendirinya. Tekatnya yang bulat inilah yang membuatnya semakin kuat menjalani cobaan yang datang kepadanya. Bahkan Ibnu Ummi juga terkenal atas kepekaan terhadap waktu untuk sholat. Sehingga atas kelebihan yang dimilikinya itu menjadikan dirinya menjadi seorang yang dipercaya untuk mengumandangakan adzan apabila Bilal berhalangan untuk datang.

Suatu saat, ketika rombongan dari Nabi Muhammad SAW melakukan hijrahnya ke Madinah, Ibnu Ummi bertanggung jawab agar kaum dari Quraisy tegak telinganya untuk mendengarkan perintah untuk menjalankan sholat itu. Atas ketekkunan dan juga kesungguhan niat yang ada di dalam diri Ibnu Ummi ini membuat iblis menjadi benci dan juga merasa tidak rela. Sehingga di sebuah Subuh Ibnu bertemu dengan pemuda. Pemuda ini menuntun beliau menuju masjid selama berhari-hari. Ibnu pun mendoakan sang pemuda itu.

Namun, pamuda itu malah justru tidak mau didoakan. Pemuda itu menolak apabila Ibnu mendoakan dirinya. Kemudian, Ibnu menanyakan kepada sang pemuda itu. Siapa sejatinya yang menolongnya itu. Kemudian sang pemuda itu membuka rahasianya. Ia menagatakan bahwa sebenarnya dia adalah Iblis. Lalu sontak saja Ibnu bertanya, jika pemuda itu iblis lantas mengapa mau menolongku dan mengantarkanku untuk menuju ke masjid. Bukankah seharusnya iblis mencegah agar tidak menjalankan ibadah.

Iblis kemudian menjawab pertanyaan dari si Ibnu tersebut. Bahwasannya, iblis tidak ingin jika Ibnu terjatuh ketika dalam perjalanannya menuju ke masjid. Ketika ibnu jatuh di jalan dan terluka, maka Allah menghapuskan dosanya. Jika Ibnu terjatuh lagi, maka kemungkinan dosa yang dimiliki oleh Ibnu akan terhapus semuanya. Melihat kondisi seperti itu, maka iblis meraa sangat iri dan juga tidak suka dengan hal itu. Akhirnya iblis pun mencari sebuah cara agar Ibnu tidak pernah terjatuh di sepanjang perjalanannya menuju masjid. Kemudian, iblispun mencari sebuah cara agar dirinya bisa menemani si Ibnu untuk menjaga di sepanjang perjalanannya.

Karena ia merasa sangat sia-sia saat ia berkali ┬ľkali menggoda ibnu untuk memiliki dosa.Memang, kebaikan Ibnu ini banyak sekali mengundang hal buruk untuk menggoda si Ibnu Ummi. Memang, keteladanan yang ada di dalam kisah sahabat nabi tentang sholat ini banyak mengundang berbagai keteladanan yang harus diteladani. Sehingga bagi umat yang jauh lebih sempurna hendaknya lebih giat dalam menjalankan ibadah.

Loading...