Kisah Sahabat Nabi Tentang Kejujuran Yang Perlu Diteladani

Posted on

Kejujuran adalah suatu sikap yang sangat wajib untuk dimiliki setiap orang. Menjadi pribadi yang  jujur dan juga memiliki sebuah tata krama yang baik adalah menjadi setiap pedoman bagi seseorang untuk diterapkan di berbagai tempat dan juga di berbagai lingkungan dengan kondisinya yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang dijalaninya. Di dalam Islam sendiri rupanya kejujuran sangat diterapkan dengan sungguh-sungguh. Bahkan dalam Al-Quran pun juga dijelaskan secara terang-terangan. Dimana ada sebuah kisah mengenai kisah jaman Nabi yang terdahulu, dan juga jaman Rasulullah SAW pada saat terjadi sebuah peperarang.

Perang yang dimaksud dalah perang Tabuk. Dimana kejadian ini berlangsung pada tahun kesembilan tahun Hijriah. Lebih tepatnya peperangan ini terjadi pada Bulan Rajab. Adapun berdasarkan riawayat-riwayat yang ada, seperti dalam sebuah kitab Sirah Nabawiyyah, yang merupakan karya dari Ibnu Hisyam perang tersebut adalah perat yang berkategori sebagai perang yang berat. Pada keadaan kering dan juga kondisi paceklik dengan lokasi yang sangat jauh kisah tersebut kemudian disaringkan dalam sebuah kitab tersebut.

Di dalam artikel ini akan disajikan sebuah kisah sahabat nabi tentang kejujuran. Dimana kisah yang disajikan di dalam sebuah kitab karya dari Ibnu Hisyam tersebut, dikisahkan dalam sebuah rombongan antara umat muslim, ada seorang sahat nabi yang ikut serta di dalam keberangkatan rombongan tersebut. Rombongan yang berjalan untuk mengikuti perang Tabuk. Ialah sahabat nabi yang bernama Kaab bin Malik. Kaab bin Malik di sini terkenal sebagai seorang sahabat nabi yang terpercaya.

image by http://mentari.online

Seorang yang juga terkenal sebagai seorang yang pertama kali masuk ke dalam agama islam dan juga turut aktif untuk mengikuti perang bersama dengan Nabi. Sehingga orang-orang di sekitarnya tidak meragukan keimanan yang dimilikinya. Namun, hal yang amat disayangkan di sini adalah ketika Sahabat nabi ini tertinggal dalam rombongannya tersebut. Beliau terlambat saat menyiapkan segala macam yang dibutuhkan untuk pembekalan dalam perang tersebut.

Saat  beliau sahabat Nabi itu sedang sibuk dalam mempersiapkan berbagi perbelakalannya, ternyata Nai dan juga sahabat yang lainnya telah bergegas untuk berangkat menuju medan perang tersebut. Kemudian, atas keterlambatan yang dialami oleh Kaab bin Malik ini beliau merasa sangat bersalah atas kejadian tersebut. Karena, apabila ada seorang muslim yang diketahui mangkir dari perang, dan itu disebabkan karena sebuah alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan dianggal kurang logis maka hal ini akan masuk ke dalam sebuah dosa yang besar. Sehingga Kaab bin Malik merasa sangat bersalah.

Dalam sebuah kisah sahabat nabi tentang kejujuran ini, beliau Kaab bin Malik merasa sangat gelisah. Ketika beliau keluar dari rumahnya dan menemui beberapa orang yang mangkir dari perang. Disebut juga sebagai orang yang tidak pandai atau lemah dalam perang. Dan juga dikatakan sebagai kaum yang munafik. Kemudian, saat itu juga, Nabi Muhammad SAW yang mengetahui bahwa Kaab ikut serta dalam peperangan tersebut. Kemudian beliau menanyakan kepada para sahabat yang lainnya tentang keberadaan dari Kaab tersebut.

Ada salah satu yang menjawab dengan jawaban yang kurang berkenan didengar oleh orang lain. Dimana sahabat nabi yang berasal dari Bani Salimah menjawab dengan jawaban bahwa Kaab mungkin mementingkan dirinya sendiri. Langsung saja ia digampar oleh salah seorang sahabat nabi yang satunya. Yang bernama Muadz bin Jabal ra. Beliau mengatakan bahwa jawaban tersebut adalah jawaban yang amat buruk.

Seketika setelah kejadian itu, sahabat nabi yang bernama Kaab itu sangat resah atas hal yang dialami tersebut saat beliau telah tahu bahwa dirinya telah absen dan teringgal dari rombongan perang tabuk tersebut. Hal yang sangat Beliau khawatirkan adalah alasan apakah yang akan beliau sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW atas kejadian tersebut. Memang, pada waktu itu, beliau juga berpemikiran untuk berbohong saja kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, hal ini tegas saja langsung diurungkan oleh beliau sahabat Nabi Muhammad itu.

Tibanya di Kota Madinah, para rombongan tersebut menunaikan ibadah sembahyang. Sebagaimana hal ini selalui dilakukan ketika usai perang. Dan juga orang yang tidak mengikuti sembahyang ini mereka menyampaikan apa saja alasan-alasan tersebut. Di sini, disebutkan banyak sekali alasan yang terhitung kurang lebih sebanyak delapan puluh orang yang ada di dalam rombongan tersebut. Jemudian, Nabi mengerti dan menerima apa yang menjadi alasan mereka masing-masing. Hal yang sangat bijak ditegaskan kepada Nabi adalah beliau enyerahkan segala kebenaran dan alasan tersebut kepada hati mereka masing-masing dengan Allah SWT.

Atas hal ini, sahabat nabi yang terkenal menjadi orang yang pertama kali dalam memeluk agama islam ini, kemudian merasa sangat rikuh. Merasa sangat rikuh atau sungkan dan tidak enak hati terhadap nabi Muhammad, kemudian Kaab bin Malik memberanikan diri untuk menyampaikan alasannya kepada Nabi Muhammad. Lantas ia datang dan juag berkata dengan sejujurnya. Beliau mengatakan bahwa tidak ada hal yang menghalangi beliau ketika hendak mengikuti perang. Kemudian Kaab mengatakan bahwa siap untuk menerima hukuman apapun yang akan ditimpakan kepada dirinya. Kaab juga mengatakan bahwa daripada dirinya mendapat murka dari Allah SWT, maka beliau lebih memilih untuk mendapat sebuah hukuman dari Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah begitu terkejut atas apa yang dikatakan oleh Kaab itu. begitu tulus atas sebuah pengakuan yang dilontarkan oleh beliau sahabat Nabi itu. Nabi pun menerima alasan yang diutarakan oleh Kaab. Namun, karena kesalahan yang telah diperbuat oleh sahabat Nabi ini kemudian Ralullah menunggu jawaban dari Allah terlebih dahulu. Dan ternyata ada sahabat dari nabi yang berjumlah dua orang dengan alasan yang sama persis dengan apa yang telah dialami oleh Kaab. Kemudian, beberapa saat nabi memerintahkan kepada para sabahat yang lainnya untuk tidak berbicara kepada mereka bertiga termasuk Kaab bin Malik.

Dimana hal ini dimaksudkan sebagai bentuk sebuah hukuman terhadap beliau. Tentu saja hal ini merupakan sebuah hal yang sangat menyesakkan perasaan bagi mereka bertiga. Kemudian, mereka bertiga sudah berusaha untuk selalu bertingkah biasa saja. Namun, betapa sakitnya perasaan yang begitu menyesakkan Kaab bin Malik dan dua orang sahabat lainnya yang mana juga merasakan hal yang sama. Saat mereka berjalan, mereka berjumpa dengan seorang sahabat dan ia pun mengatakan bahwa ia sangat mencintai Allah dan juga Rasul-Nya. Kemudian sahabat yang dijumpainya itu kemudian menjawab.

Bahwa yang tahu hanyalah Allah dan Rasul-Nya. Kaab merasa sangat kesulitan mnejalani hal ini. kmeudian tibalah di sebuah hari ke lima puluh. Ia berdoa kepada Allah melalui sholat sebelum Fajar. Kemudian ada suara yang berasal dari Nabi yang mengatakan bahwa Allah telah mengampuninya. Betapa bahagianya Kaab. Atas kisah sahabat nabi tentang kejujuran ini, banyak menjadi pembelajaran.

Loading...