Kisah Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail Singkat, Sebuah Tauladan dan Hikmah

Posted on

Nabi Ibrahim memiliki kisah hidup yang mengharukan dan patus diteladani dalam hal penghambaan kepada Allah, Tuhan Semesta Alam. Lahir disebuah zaman jahiliyah yang masih menyembah berhala, kala itu Nabi ibrahim berhasil menemukan Tuhan dan terus mengajarkan ketauhidan kepada orang lain disekitarnya. Kisah Nabi Ibrahim semasa hidupnya memang memberikan banyak pelajaran bagi manusia terutama dalam ikhlas menjalani apa yang ditakdirkan oleh Allah SWT. Seperti pada kisah Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, yang termasuk peristiwa terbesar sepanjang kehidupan manusia di bumi.Pada saat itu, Nabi Ibrahim bukan seorang lelaki yang terbilang beruntung. Pernikahannya dengan Sarah, diriwayatkan tidak dikaruniai anak hingga puluhan tahun lamanya.

Saat itu, Nabi Ibrahim begitu ingin mendapatkan pewaris keturunan namun tidak diberikan oleh Allah SWT. Keimanan yang tinggi dari seorang Ibrahim tidak membuat dirinya mengeluh atau membenci Tuhannya. Kehidupan tetap dijalani seraya terus memohon untuk diberikan keturunan. Hingga akhirnya, kerelaan hati dari Sarah mengizinkan suaminya untuk menikahir budak yang bernama Siti Hajar agar bisa mendapatkan keturunan. Benar saja, melalui cara itu Allah titipkan anak laki-laki yang diberi nama Ismail. Seorang anak kandung yang sudah dinanti lama akhirnya bisa digendongnya. Bisa terbayang betapa senangnya seorang Nabi Ibrahim kala itu setelah menanti puluhan tahun lamanya untuk bisa memiliki seorang anak.

Bahkan tidak hanya itu, kesabaran dan kerelaan hati menjalani takdir yang ditetapkan Allah membuat Nabi Ibrahim dikaruniai anak juga dari Sarah. Seorang istri yang ikhlas dan juga ikut beriman kepada Allah akhirnya bisa mendapatkan keturunan dengan lahirnya seorang putra yang diberi nama Ishaq. Namun yang membuat terjadinya peristiwa besar dan terus diperingati umat muslim hingga saat ini adalah kisah Nabi Ibrahim menyembelih Ismail. Sebuah kisah yang penuh haru dengan hanya berawal dari sebuah mimpi.

image by www.diyadinnet.com

Nabi Ibrahim bukanlah manusia biasa. Nabi Ibrahim telah menemukan Allah sebagai tuhan yang pantas disembah dan bukan berhala seperti orang lain pada zamannya. Nabi Ibrahim memiliki hati yang begitu kuat menghamba kepada Allah termasuk juga ketika diberikan perintah melalui mimpi. Pada awal mulanya, mimpi yang dirasakan hanya menimbulkan kekhawatiran sesaat. Bagaimana tidak, dalam mimpi tersebut Allah meminta Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya sendiri yang dulunya begitu dinanti lama. Kala itu, Ismail sang putra Nabi Ibrahim telah beranjak remaja. Di usianya tersebut, Nabi Ibrahim begitu merasakan bakti dari Ismail yang memberikan jasa bantuan setiap harinya. Kasih sayang Nabi Ibrahim juga sangat besar kepad Ismail dan tidak pernah berkurang sejak kelahirannya. Namun di dalam mimpi, justru Allah memintanya untuk menyembelih anak yang sangat disayangi.

Mimpi tersebut semakin terpikirkan setiap saat. Mimpi yang diberikan kepada nabi dan rasul memang salah satu cara Allah memberikan Wahyu-Nya. Namun karena meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang pantas disembah dan begitu dicinta, maka Nabi Ibrahim akhirnya berniat untuk melaksanakan perintah tersebut. Berniatlah seorang Ibrahim untuk menyembelih anak kandungnya sendiri sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim begitu yakin bahwa Allah mengetahui kepada siapa dan apa amanat yang diberikan kepada hambanya dengan tepat. Dan akhirnya, Nabi Ibrahim segera menemui anak kandung yang sangat disayanginya untuk menyampaikan apa rencananya.

Loading...

Begitu haru suasana Nabi Ibrahim menyampaikan apa yang diperintahkan Allah melalui mimpinya. Betapa harunya lantaran Nabi Ibrahim harus menyembelih anaknya sendiri dengan tangannya sendiri sebagai bentuk penghambaan dan berkurban. Namun itulah keistimewaan para nabi, Nabi Ibrahim tetap menyampaikan rencananya kepada sang anak untuk menjalankan apa yang diperintah Allah. Dan jawaban dari Ismail pun juga merupakan jawaban dari seorang anak yang saleh dan sangat beriman kepada Allah. Mendengar apa yang dikatakan ayahnya, Nabi Ismail begitu pasrah dan ikhlas untuk disembelih ayahnya sendiri. Sebuah peristiwa yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh manusia biasa tentunya.

Kerelaan dan keikhlasan dari Nabi Ibrahim bahkan diikuti dengan perkataan yang begitu membuat haru. Ismail berkata pada ayahnya untuk segera melaksanakan apa yang diperintahnya Allah dan berkata bahwa insya-Allah dirinya merupakan seorang hamba yang patuh dan sabar terhadap perintah. Nabi Ibrahim tak kuasa menahan haru dengan bercucurannya air mata yang semakin menjadi-jadi ketika Ismail memintakan sejumlah hal. Ismail meminta agar dirinya disembelih dalam keadaan terikat kuat agar proses penyembelihan tidak susah dilakukan. Ismail meminta agar dirinya disembelih dengan menanggalkan pakaian agar tidak terkena darah yang ia takutkan mengurangi pahala dan ia takutkan bisa membuat hati sang ibu menjadi sangat sedih.

Baju yang ditanggalkannya juga dititipkan kepada sang ayah untuk diberikan pada ibunya sebagai peninggalan terakhir yang dapat dikenang dan bisa mengusir kepedihan di hati. Dan satu lagi permintaan Ismail yang juga begitu mengharukan adalah permintaannya untuk mengasah parang hingga benar-benar tajam. Ia meminta penyembelihan dilakukan dengan parah yang benar-benar tajam untuk mengurangi penderitaannya saat disembelih.Mendengar kerelaan dan keikhlasan anaknya serta beberapa permintaan tersebut, Nabi Ibrahim semakin menitikkan air mata. Dipeluknya sang putra kandung dan juga dicium pipinya seraya membisikkan kalimat yang menunjukkan betapa bangganya Nabi Ibrahim memilki putra seperti Ismail. Seorang Nabi Ibrahim yang mengutamakan cinta kepada Allah melebihi apapun didukung oleh anaknya yang juga begitu pasrah dan ikhlas atas perintah Allah SWT.

Saat proses penyembelihan berlangsung, kuasa Allah begitu ditunjukkan pada kisah Nabi Ibrahim menyembelih Ismail ini. setelah dibaringkan dan siap untuk disembelih, parang yang tadinya sudah terasah hingga benar-benar tajam menjadi tumpul dan tidak bisa melukai apalagi menyembelih Ismail. Dicobanya untuk memotong leher sang anak dengan deru air mata yang tidak terhenti, namun Nabi Ibrahim tetap tidak bisa mendapati parangnya menembus kulit Ismail. Melihat kejadinya tersebut membuat Nabi Ismail lebih meyakinkan ayahnya agar lebih tega menyembelih anaknya. Ismail bahkan meminta ayahnya menelungkupkan dirinya agar wajahnya tidak terlihat sehingga diharapkan bisa membuat Nabi Ibrahim lancar dalam menyembelih.

Namun memang, parang yang tajam tersebut berubah menjadi tumpul atas kuasa Allah SWT. Mukzizat tersebut mencegah adanya darah yang tumpah dari seorang Nabi Ibrahim yang hanya ingin menuruti perintah Tuhannya. Namun dengan kuasa Allah lah, ujian tersebut dihentikan dan digantinya seekor kambing kabas untuk dijadikan kurban atas nyawa Ismail. Wahyu Allah ini langsung diberikan kepada Nabi Ibrahim yang masih bingung dengan apa yang terjadi lantaran gagal menyembelih anaknya. Namun karena mendapatkan wahyu Allah SWT, maka segeralah disembelih kambing yang telah disediakan oleh Allah dan menggantikan Ismail yang sudah pasrah.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail ini yang kemudian dan hingga saat ini dikenal sebagai Idul Adha. Sebuah peristiwa besar yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini harus dijadikan pengingat selalu kepada para umat Islam untuk terus meningkatkan iman, memenuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta ikhlas dalam menjalani takdir yang telah Allah gariskan.

Loading...