Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan dan Kebenaran Secara Singkat dan Hikmahnya

Posted on

Nabi Ibrahim hidup dizaman jahiliyah. Ketika itu, Nabi Ibrahim sebagai putra Aazar bin Tahur hidup di negeri yang makmur yaitu negeri Babylon dengan pemimpin bernama Raja Namrud. Keadaan wilayah kerajaan yang makmur itu membuat semua rakyatnya tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Berbagai perihal kehidupan seolah tidak mengalami masalah baik dari sandang, papan, pangan dan perihal lainnya untuk bisa berkembang maju. Namun di sisi lainnya, masih terasa jelas kaum yang tersesat dan tidak tahu Tuhannya.

Nabi Ibrahim merupakan nabi dan rasul Allah yang diutus untuk memurnikan ajaran dan memberikan pelita dalam kehidupan. Kala itu, Nabi Ibrahim dibekali dengan akal dan pikiran yang sangat baik dan murni sehingga mampu menemukan kejanggalan dalam hidup. Kejanggalan yang dirasakan adalah orang-orang yang menyembah berhala yang sejatinya dibuat oleh manusia termasuk ayahnya. Ya, Nabi Ibrahim merupakan putra seorang pemahat dan pedagang berhala pada waktu itu. Namun setelah merenung dan berpikir mendalam, dirinya yang kala itu masih berusia anak-anak menjadi enggan untuk membantu ayahnya menjualkan patung yang telah dibuat. Nabi Ibrahim terus berpikir untuk mencari Tuhan yang ia yakini bukan berhala atau batu yang dipahat.

Dalam berbagai buku kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan juga dijelaskan bahwa kala itu Raja Namrud begitu berkuasa. Keadaan ini juga diketahui bahwa Raja Namrud tidak ingin rakyatnya menyembah berhala lagi. Namun, pemikiran dari Raja Namrud tidak sama dengan apa yang dipikirkan oleh Nabi Ibrahim. Raja Namrud mulai berpikir bahwa dirinya yang pantas disembah. Raja Namrud menganggap dirinya yang maha berkuasa, sangat kaya, mampu mengubah orang miskin menjadi kaya, mampu berbuat sesukanya, dan memiliki wilayah yang luas lagi makmur. Pemikiran ini semakin diperkuat dengan pembandingan dirinya dengan patung yang jauh lebih memberikan manfaat dan jauh lebih berkuasa sehingga lebih pantas disembah.

Berbeda sekali dengan apa yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencari Tuhan. Dalam kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan, awal mulanya adalah tentang melihat alam sekitar. Nabi Ibrahim mulai mengira apakah bintang merupakan Tuhan yang pantas disembah. Setelah merenunginya, dirinya melihat bahwa bulan jauh lebih terlihat besar. Lalu berpikirlah Nabi Ibrahim tentang bulan adalah Tuhannya. Namun ketika pagi datang, Nabi Ibrahim kecewa lantaran bulan menghilang dan digantikan oleh matahari yang lebih kuat sinarnya dan lebih besar. Lalu berubahlah dirinya dengan menganggap matahari sebagai tuhannya. Namun dirinya kembali kecewa lantaran matahari kembali hilang ketika malam.

Loading...

Pemikiran dan perenungan tersebut hanya dilakukan oleh Nabi Ibrahim sendiri dengan bekal akal dan pikiran dari Allah SWT. Hingga akhirnya Nabi Ibrahim berhasil menemukan bahwa Allah lah Yang Maha Esa dan pantas disembah sebagai pemilik alam seisinya. Keyakinan ini terus dipupuk dan membuat Nabi Ibrahim menjadi semakin enggan untuk berjualan patung berhala untuk sesembahan. Bagaimana tidak, dirinya telah berpikir keras bahwa tidak mungkin batu yang dipahat manusia disembah sebagai Tuhan karena jelas tidak memberikan manfaat dan pengaruh apa-apa. Bekal akan dan pikiran dari calon rasul Allah ini bertolak belakang dengan dirinya yang merupakan anak dari seorang pemahat sesembahan.

Namun, keyakinan Nabi Ibrahim tersebut belumlah begitu kuat. Tekad untuk memerangi perbuatan syirik dizaman jailiyah tersebut sudah muncul dalam benak Nabi Ibrahim. Begitu pula dengan pemikiran untuk memerangi ayahnya sendiri yang memang mencari nafkah dengan menjual patung yang digunakan untuk sesembahan. Namun tekad tersebut juga diikuti satu niat untuk mempertebal iman dan keyakinan terlebih dahulu. Nabi Ibrahim ingin sekali yakin terlebih dahulu bahwa Allah SWT lah satu-satunya Tuhan yang pantas disembah.

Hingga akhirnya, Nabi Ibrahim meminta bukti kepada Allah yang diyakini sebagai Tuhannya. Bukti yang diminta kala itu sebagai suatu cara memperkuat iman dan keyakinannya untuk juga membuat semangat memerangi kesyirikkan. Nabi Ibrahim mulai menghamba dan berdoa kepada Allah untuk diberikan bukti keagungan-Nya. Nabi Ibrahim meminta bukti untuk juga mengusir sekelibat pikiran yang mengganggu keyakinannya akan Tuhan yang sesungguhnya. Yang dimintakan kepada Nabi Ibrahim kala itu adalah bukti untuk menghidupkan makhluk yang sudah tidak bernyawa. Kepada Allah SWT, Nabi Ibrahim berseru untuk meminta diperlihatkan kekuasan Allah untuk menghidupkan makhluk yang sudah mati. Lalu kemudian seruan tersebut dibalas dengan firman Allah berupa pertanyaan akan keyakinan Nabi Ibrahim akan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Nabi Ibrahim menjawab dengan juga meminta bukti nyata yang dapat dilihat sendiri olehnya. Nabi Ibrahim berucap bahwa dirinya meyakini bahwa Allah SWT lah yang bisa disembah dan dipercaya. Namun, diikuti pula permintaan bukti kekuasaan Allah SWT secara langsung untuk menentramkan hati dan mengusir semua keraguan yang ada dihati dan pikiran agar bisa semakin tebal beriman dan semakin yakin akan kuasa Tuhan. Hingga akhirnya, Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim kala itu. Permintaan yang sesungguhnya sangat mudah bagi Allah SWT karena semua yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.

Pembuktian kekuasaan Allah SWT melalui perantara burung yang telah mati berjumlah empat ekor. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menangkap empat ekor burung, membunuhnya, dan memisahkan bagian-bagian tubuhnya hingga benar-benar tercincang dan terpisah-pisah serta mencampur-campurkan keempat potongan burung tersebut. Setelah itu, perintah selanjutnya muncul untuk meletakkan potongan kecil dari burung yang sudah tidak berbentuk itu di empat buah bukti dibagian puncaknya. Masing-masing bukit memiliki jarak yang cukup berjauhan dan potongan tubuh burung yang sangat acak.

Setelah melakukan apa yang diperintahkan Allah, Nabi Ibrahim kembali diperintahkan untuk memanggil burung yang telah disembelih dan diltetakkan diempat bukti tadi. Nabi Ibrahim melakukan pemanggilan kepada burung yang sudah tidak ada dan bahkan sudah teruai menjadi potongan yang sangat acak dan tidak beraturan ditempat yang sudah terpisah-pisah. Namun dengan kuasa Allah SWT, burung tersebut datang kepada Nabi Ibrahim dengan nyata dan jelas terlihat oleh dirinya sendiri. Hidupnya burung-burung yang telah tidak bernyawa tadi membuat Nabi Ibrahim menjadi sangat yakin akan kuasa dari Allah SWT sebagai tuhan semesta alam.

Peristiwa tersebut begitu menentramkan hati dan pikiran dari Nabi Ibrahim dizaman jahiliyah yang masih menyembah berhala. Nabi Ibrahim meyakini tidak ada suatu apapun yang bisa menghalangi kuasa Allah SWT. Dan setelah mendapatkan bukti keagungan Allah, Nabi Ibrahim mulai untuk mengajarkan ketauhidan disekelilingnya termasuk kepada ayahnya agar tidak lagi menyembah berhala yang penuh dengan kesesatan.

Itulah tadi rangkuman singkat kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan. Sebagai manusia biasa, peristiwa tersebut pastinya jauh dari logika berpikir normal. Namun dengan mukzizat yang diberikan kepada Nabi Ibrahim dan kekuasan Allah untuk menunjukkan keagungan-Nya, suatu hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin terjadi. Dari kisah Nabi Ibrahim ini diharapkan lebih bisa meningkatkan kadar iman dan ketakwaan semua umat muslim agar selalu ingat kuasa Allah dan tidak menyembah apapun selain menyembah-Nya.

Loading...