10 Fakta Anak Pertama Menikah dengan Anak Pertama Yang Sebenarnya

Posted on

Dalam semua agama pernikahan merupakan suatu perkara yang memang sangat dianjurkan apabila telah memenuhi berbagai syarat yang telah ditentukan. Dalam islam pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah. Sunnah inilah yang menghindarkan manusia dari perbuatan yang tercela.

Namun tahukah Anda bahwa di kalangan masyarakat, ada beberapa mitos atau kepercayaan tentang pernikahan. Salah satunya adalah anak pertama yang menikah dengan anak pertama pula.Meskipun zaman semakin berkembang, nyatanya mitos ini masih ada terngiang di kalangan masyarakat. Dulu, pernikahan yang dilakukan oleh anak sulung dengan anak sulung pula akan memberikan dampak yang negatif pada pernikahannya.

Melihat hal tersebut, tentunya sangat menarik membicarakan tentang fakta anak pertama menikah dengan anak pertama bukan?Bagaimana jika Anda dengan pasangan saat ini sama-sama anak pertama?Karena pada kenyataannya, banyak orangtua yang melarang anak pertamanya untuk menikah dengan orang lain yang juga sama-sama anak pertama. Larangan tersebut merupakan suatu kekhawatiran yang dirasakan oleh setiap orang tua.

Dimana tentunya ingin memberikan yang terbaik kepada anaknya dengan memilih pasangan yang sesuai agar pernikahan yang dilakukan bisa harmonis dan langgeng hingga akhir hayat. Bagi Anda yang penasaran, berikut ini adalah beberapa fakta anak pertama menikah dengan anak pertama yang perlu Anda ketahui.

Fakta Anak Pertama Menikah dengan Anak Pertama
1. Efek dari mitos 

Seperti yang diketahui, masing-masing daerah memiliki mitos dan cerita daerahnya masing-masing Berdasarkan mitos yang ada, pernikahan yang dilakukan oleh sesama anak pertama tidak akan harmonis dan berlangsung lama. Bahkan ada pula yang mengkhawatirkan bahwa pernikahan tersebut akan membuat sang istri atau suami meninggal di masa pernikahan yang masih muda.

Mitos tersebut seringkali menjadi alasan orang tua terdahulu untuk melarang anaknya menikah dengan orang yang sama-sama anak pertama. Pada kenyataannya, semua hanyalah mitos. Keharmonisan dan kelanggengan rumah tangga tergantung dari kedua belah pihak. Bukan karena mitos yang tidak mendasar. Apalagi dalam islam, kematian adalah suatu hal yang pasti akan dialami oleh setiap orang, bukan disebabkan oleh mitos.

2. Anggapan masyarakat 

Selain mitos, pada kenyataanya banyak pula masyarakat yang beranggapan negatif terhadap pernikahan sesama anak pertama. Sebagian masyarakat menganggap bahwa anak pertama yang menikah dengan anak pertama harus berhati-hati dalam pernikahan mereka. Bukan berarti pernikahan tersebut berdampak negatif tapi karena masyarakat berpikir bahwa anak pertama memiliki pemikiran yang sama-sama egois.

Meskipun demikian, banyak pula masyarakat yang menilai bahwa pemikiran tersebut sangatlah generalis. Kenapa? Karena mereka menyamakan sikap dan sifat seseorang hanya karena sama-sama anak pertama. Pemikiran generalis ini juga bisa menimbulkan persepsi bahwa orang jawa begitu, orang sunda begini dan lain sebagainya. Padahal sikap dan sifat seseorang tidak bisa disamakan seperti itu.

3. Anak pertama terkenal sama-sama tangguh 

Tidak selalu negatif, ternyata ada banyak dampak positif yang akan dirasakan saat Anda yang merupakan anak pertama menikah dengan dia yang juga anak pertama. Salah satunya adalah Anda akan sama-sama tangguh dalam menjalanj bahtera rumah tangga. Anak pertama biasanya diajarkan untuk hidup yang prihatin sebab kondisi keuangan keluarga masih belum stabil dan merintis.

Cobalah Anda ingat kembali, saat masih kecil. Tentu yanh diingat adalah fasilitas dan kondisi ekonomi orang tua yang masih sangat terbatas mulai dari pekerjaan yang belum tetap, rumah yang masih mengontrak, makan seadanya dan lain sebagainya. Lain halnya dengan kehidupan adii-adik yang sudah berada dalam kondisi ekonomi yang mapan.

Karena pengalaman hidup itulah Anda memiliki sifat dan sikap yang lebih tangguh dibandingkan dengan adik-adik. Dengan begitu, saat menjalanj pernikahan Anda dan pasangan bisa saling memotivasi agar bisa bertahan dalam menghadapi masalah pernikahan, terutama yang berkaitan dengan finansial.

4. Sama-sama berjiwa pemimpin 

Seorang anak pertama memiliki jiwa pemimpin sebab ia memiliki adik-adik yang harus dijaga dan diayomi. Bisa Anda bayangkan, jika pemimpin bertemu dengan pemimpin maka akan ada bentrok yang menyebabkan permasalahan besar. Hal ini dikarenakan keduanya yang merasa sebagau pemimpin. Meskipun demikian, hal ini tidak selalu berdampak negatif.

Karena mereka yang memiliki jiwa kemimpinan dapat menyelesaikan masalah dengan baik dan kepala dingin. Jadi Anda dan pasangan bisa menyelesaikan masalah dengan baik tanpa ada rasa egois. Sebagai perempuan, maka sudah seharusnya menuruti kata-kata suami. Tapi sebagai suami, Anda juga harus menghargai keinginan dan kebutuhan istri. Dengan begitu, sifat kemimpinan yang Anda dan pasangan miliki akan memberikan efek yang baik untuk pernikahan.

5. Tidak mau mengalah 

Salah satu alasan kenapa banyak orang tua yang menyarankan anak pertamanha untuk tidak menikahi anak pertama juga adalah karena anak pertama memiliki sifat tidak mau mengalah. Sifat ini memang memberikan dampak yang buruk pada pernikaham. Tapi jika Anda dan pasangan bersungguh-sungguh dalam melanjutkan hubungan ke janji pernikahan, maka sifat egois yang tidak mau mengalah tersebut pastinya bisa diatasi dengan baik.

6. Paling ditunggu-tunggu 

Biasanya jika anak pertama baru menikah maka orang tua akan sangat menanti-nanti kehadiran cucu pertama. Jadi jika Anda sudah menikah nantinya, jangan heran jika nanti banyak orang yang akan bertanya-tanya “perutnya sudah isi belum?” baik dari pihak orang tua si wanita atau pihak laki-laki. Jadi, siapkan mental Anda mulai dari sekarang.

7. Saling mengerti dan tidak suka menuntut 

Walaupun anak pertama biasanya mempunyai sifat yang egois dan keras, ternyata ada pula sifat anak pertama yang akan membuat pernikahan berlangsung bahagia. Salah satunya adalah sifatnya yang tidak suka menuntut. Di didik sebagai anak pertama membuat Anda dan pasangan memiliki toleransi yang tinggi dan tidak suka menuntut. Selain itu, anak pertama juga memiliki rasa empati yang tinggi sehingga tidak akan menyusahkan pasangannya.

8. Bisa menjadi contoh untuk anak-anak nanti 

Anak pertama sudah terbiasa membantu orang tuanya untuk mengurusi adik-adik. Oleh karena itulah anak pertama biasanya memiliki perhatian yang tinggi kepada anak-anak. Kualitas Anda dan pasangan dalam berhubungan baik dengan para adik bisa memperlihatkam bagaimana nantinya Anda bisa mengurus anak. Selain itu, anak pertama juga menjadi contoh bagi adik-adiknya. Jika Anda dan pasangan gagal dalam pernikahan, maka bukan tidak mungkin jika adik-adik akan memiliki penilaian yang negatif terhadap pernikahan.

9. Analisis karakter 

Anak pertama memiliki beberapa kecenderungan psikologis seperti memimpin, melindungi, suka mengatur, mandiri, memiliki keputusan sendiri, memiliki empati yang tinggi dan lain sebagainya. Jika semua sifat tersebut bisa Anda dan pasangan antisipasi dengan baik maka pernikahan yang indah dan harmonis bukanlah sekedar impian.

10. Selalu bertengkar 

Sifat dan sikap yang sama terkadang membuat Anda dan pasangan seringkali bertengkar. Apalagi anak pertama memang memiliki sifat keras kepala. Jadi wajar saja jika banyak yang menilai bahwa pernikahan anak pertama dengan anak pertama hanya akan berujung pada pertengkaran dan perpisahan. Meskipun demikian, pada kenyataannya banyak pasangan yang sama-sama anak sulung memiliki pernikahan yang harmonis hingga tua.