Asal Usul Banyuwangi Singkat Sejarah Kerajaan dan Legenda

Posted on

Kota Banyuwangi lahir dengan penuh cerita. Layaknya kota kota lain di Indonesia, Banyuwangi memiliki sejarah yang bisa menerangkan bagaimana kota tersebut bisa terbentuk. Diambil dari berbagai referensi, Banyuwangi sangat erat hubungannya dengan sejarah kerajaan Hindu yang paling akhir eksis di Pulau Jawa yaitu Kerajaan Blambangan.

Hingga tanggal 18 Desember yang selalu diperingati sebagai Hari Jadi Kota Banyuwangi pun tidak lepas dari peristiwa dahyat yang akhirnya terukir sejarah.18 Desember 1771 adalah puncak dari perang yang memulai kehidupan dari Kota Banyuwangi. Di hari itu, terjadi perlawanan besar besar di Blambangan, yang saat ini menjadi Banyuwangi dari rakyat Jawa bagian Timur termasuk dari Pulau Madura.

Rakyat bersama pembesar dari Kerajaan Blambangan berjuang melawan VOC yang saat itu tengah juga melawan Inggris. Agar lebih jelas dan runtut, akan diberikan catatan sejarah berdasarkan urutan waktunya.

Asal Usul Banyuwangi Singkat Sejarah Kerajaan dan Legenda

1. Kerajaan blambangan dibawah VOC

Catatan sejarah mengatakan, kawasan Blambangan sempat dikuasai secara resmi oleh VOC yang datang dimasa awal. Kerajaan Blambangan diserahkan oleh Pakubuwono II dari Kerajaan Mataram kepada VOC dan merupakan hal yang biasa terjadi ketika penjajah datang. Namun, VOC tidak tertarik untuk mendapatkan kawasan jajahan di Blambangan. Justru, kawasan ini dibiarkan dan bisa memiliki kehidupan layaknya tidak dikuasai oleh penjajag. Hingga tahun 1767, kawasan Blambangan juga bisa berada dalam lindugan Bali yang cukup kuat pada waktu itu.

2. Inggris datang ke blambangan

Kekacauan terjadi ketika Inggris datang. Dengan penuh rencana perdagangan, pada tahun 1766 Inggris menjalin kerja sama dengan pembesar Blambangan dan akan menjadikan kota ini menjadi pusat perdagangan.

3. Pecahnya perang puputan bayu

Mendengar Inggris datang dengan penuh rencana, bahkan sudah pula mendirikan kantor dagangnya, VOC yang merasa memiliki kuasa penuh akan Blambangan pun tidak tinggal diam. Saat itu, VOC memiliki niat untuk mengusir Inggris dan merebut kembali Blambangan menjadi jajahannya. Sejumlah pasukan lengkap dikirim untuk bisa menghabisi Inggris dan juga melawan rakyat yang juga melakukan perlawanan. Perang ini sangat dahsyat dan menimbulkan pertumpahan darah yang begitu banyak. Bahkan, pemimpin dari perang yang dikenal sebagai Perang Puputan Bayu ini pun gugur. Tercatat Pangeran Jagapati, buyut dari Pangeran Tawang Alun yang termasyur dari Kerajaan Blambangan pun gugur dalam perang ini.

4. Puputan bayu II dan asal mula lahirnya kota banyuwangi

Namun Perang Puputan Bayu ini tidak berakhir begitu saja. Selama lima tahun lamanya Perang Puputan Bayu ini berlangsung. Pada tahun 1968 tercatat ada pula perlawanan dari rakyat Blambangan kepada VOC. Saat ini, peperangan dipimpin oleh pangeran mereka yaitu Pangeran Puger. Namun, peperangan ini bisa dibilang tidak sebanding dan gagal karena VOC berhasil menang besar. Sejarah juga mencatat, Perang Puputan Bayu bisa dibagi menjadi dua. Dan perang yang kedua inilah yang menjadi puncaknya.

Pada 18 Desember 1771 dimana pertumpahan darah terjadi dimana mana dan seluruh rakyat Blambangan pun melawan. Sejarah yang dimulai dengan ekspansi VOC besar besaran ke Blambangan saat kota ini menjadi lebih maju karena menjadi pusat perdagangan bentukan Inggris. Inilah mengapa Hari Lahir Banyuwangi setiap tahun diperingati pada tanggal 18 Desember, untuk mengenang awal perjuangan berdirinya kehidupan Blambangan yang merdeka.

Sebagai bagian dari edukasi, inilah dia nama nama yang tercatat dalam sejarah dalam peperangan Puputan Bayu:

  • Puputan Bayu I
    Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati memimpin perjuangan rakyat Blambangan. Mas Rampeg ini memiliki pengikut setia Patih Jagalara, Bekel Bekel utun, Runteb Udhuh, dan Mas Ayu Wiwit. Semuanya gugur dalam peperangan melawan VOC yang dikomando oleh Cornelis van Biesheuvel serta dibantu oleh Kapten Reygers.
  • Puputan Bayu II
    Bapa Endha memimpin perjuangan rakyat pada perang yang kedua. Bapa Endha bersama rakyat Blambangan melawan Perwira VOC yaitu Kapten Heinrich, Vaanrig Lenigen dan pasukan lengkapnya.

Legenda Sri Tanjung, asal mula nama banyuwangi

Sejarah kerajaan bisa mengungkap bagaimana perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajah. Lalu bagaimanakah asal usul nama Banyuwangi? Nama kota Banyuwangi ini tidak lepas dari sebuah legenda Sri Tanjung. Diceritakan ada sebuah negeri yang indah, damai, dan makmur di ujung Pulau Jawa saat itu dipimpin Prabu Sulahkromo. Bak sebuah kerajaan pada umumnya, raja selalu mengangkat seorang patih kepercayaan. Prabu Sulahkromo ini memiliki patih yang sangat berani, perwira, dan arif jiwanya bernama Patih Sidopekso. Tidak ada masalah yang muncul hingga pada akhirnya Sang Raja menjadi buta oleh cinta terlarang.

Prabu Sulahkromo adalah raja yang sangat baik, hingga cinta yang salah datang membuatnya licik dan mati hati. Adalah Sri Tanjung, istri dari sang Patih Sidopekso yang sangat cantik, baik hati, dan halus dalam bertutut kata yang membuat sang Raja jatuh hati. Sri Tanjung ditemukan oleh Patih Sidopekso saat pertapaan dan mencari obat atas perintah raja. Karena kecantikan parasnya dan baik budinya, Sang Patih mempersunting Sri Tanjung yang merupakan keturunan bidadari dan akhirnya dibawa ke kerajaan. Sejak bertemu, Raja langsung jatih hati dan ingin merebut istri baru dari patihnya tersebut. Tidak ada yang mengetahui perasaan sang Raja hingga akhirnya ide licik muncul untuk bisa merebut istri dari patih andalannya.

Raja dengan tahtanya memberikan titah kepada Patih Sidopekso untuk pergi jauh agar dirinya bisa menggoda Sri Tanjung. Patih Siodpekso diberikan tugas berat dan terkesan mustahil dilakukan agar dia tidak kembali ke kerajaan. Mendengar tugas berat datang dari Sang Raja, Patih Sidopekso sebagai seorang Ksatria dengan gagah berani menyanggupi tugas tersebut. Patih Sidopekso berangkat dengan berbekal selendang ajaib milik ibu dari Sri Tanjung yang merupakan bidadari, terbang menuju Swargaloka. Patih Sidopekso terbang dengan membawa sepucuk surat dari Raja untuk diberikan kepada dewa di Swargaloka yang justru membuatnya dalam bahaya. Surat itu berisi hasutan seolah Patih Sidopekso akan melawan negeri Swargaloka. Membaca surat seperti itu, para dewa marah dan menghakimi sang patih hingga akhirnya kesalah pahaman itu terselesaikan. Patih Sidopekso kembali dengan selamat ke kerajaan.

Sepeninggal Patih Sidopekso melaksanakan tugas raja yang mencelakakannya itu, Sang Raja Sulahkromo mencoba untuk menggoda Sri Tanjung. Dirayunya Sri Tanjung dengan dipaksanya untuk berhubungan sang Raja yang bebas menjamahnya karena tidak ada perlindungan dari manapun. Namun saat sang Raja memeluk Sri Tanjung, Patih Sidopekso datang hendak ingin melapor tugasnya itu. Dan ternyata, begitu terkejutnya Patih Sidopekso melihat istrinya itu sedang dipeluk dan berdekatan dengan raja. Melihat ada sang patih datang tiba tiba, Raja Sulahkromo berkelit dan memfitnah bahwa Sri Tanjunglah yang menginginkan itu semua.

Patih Sidopekso murka dan ingin langsung membunuh istrinya yang cantik jelita dan disayangnya itu. Sesaat sebelum patih menancapkan kerisnya, sang istri meminta satu permintaan terakhir. Sri Tanjung ingin setelah ia dibunuh, ia bersumpah akan ada air yang harum memancar dari jasadnya sebagai bukti dirinya selalu menjaga kesucian dan kesetiaan. Benar saja, setelah keris menancap keluarkan air yang harum baunya sehingga peristiwa ini menjadi cikal bakal nama Banyuwangi atau air yang harum.