Arti Ghibah Menurut Islam, Serta Hukum dan Bahaya Ghibah

Posted on

Gosip atau dalam bahasa Arab adalah Ghibah merupakan membicarakan perkara orang lain yang terkait ke dalam hal-hal negatif. Seperti yang sudah Anda ketahui bahwa hingga sekarang ini ghibah sudah sangat menjadi dan merajalela di semua kalangan, baik kalangan muda maupun kalangan tua.

Bukan hanya dikehidupan sehari-hari saja ghibah ini selalu dijumpai, namun di media lain seperti televisi saja sudah banyak acara-acara gosip yang pada umumnya memiliki banyak mudharat. Biasanya infotainment-infotainment yang membahas berbagai macam gosip tersebut pada umumnya membahas gosip miring seputar para selebriti baik di dalam negeri maupun luar negeri. Pada umumnya gosip-gosip tersebut terkait dengan urusan pribadi para selebriti seperti pacaran, penceraian, perselingkuhan, operasi plastik, dan sebagainya.

Sedangkan di kehidupan nyata atau dilingkungan masyarakat menggosip terkadang sudah bisa diibaratkan sebagai makanan sehari-hari masyarakat karena tak sedikit diantaranya para masyarakat saling menggosipkan tetangganya sendiri. Naudzubillah. Jika Anda merupakan seorang muslim tentu saja Anda mengetahui bagaimana hukum ghibah di dalam Islam.

Arti Ghibah Menurut Islam (Hukum dan Bahaya Ghibah)

Hukum ghibah di dalam islam

Berdasarkan dalil hukum ghibah di dalam Islam ada tiga macam diataranya yaitu:

1. Haram

Hukum ghibah atau gosip yang pertama di dalam Islam adalah haram. Ghibah yang haram tersebut yaitu pada saat Anda bersama orang lain lalu membicarakan aib sesama saudara muslim yang telah dirahasiakan. Baik itu aib yang terkait mengenai perilaku, bentuk fisik, agama, maupun duniawi. Haramnya ghibah telah ditegaskan di dalam Al-Quran dan hadits.

Banyak para ulama yang menganggap bahwa ghibah merupakan salah satu dosa besar yang dilarang oleh Allah. Menurut Ibnu Hajar Al-Haitami gosip atau biasa disebut ghibah dan adu domba atau namimah merupakan perbuatan yang termasuk ke dalam dosa besar.

Sebagaimana Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Al-Adzkar yang mengatakan bahwa: Ghibah hukumnya haram bukan hanya untuk pembawa gosip namun bagi para pendengar gosip itu sendiri serta mengakui berita yang digosipkan itu. Maka sangat diwajibkan untuk siapa saja yang sudah mendengar ghibah tersebut ataupun orang yang memulai ghibah agar berusaha untuk berhenti karena jika ghibah terus dilanjutkan sangat dikhawatirkan berpotensi terhadap ancaman.

Jika sang pendengar tidak berani atau takut untuk menghentikan ghibahnya maka wajib baginya untuk mengingkari dan keluar dari perkumpulan pertemuan tersebut jika memang memungkinkan. Apabila pendengar ghibah mampu mengingkarinya secara lisan ataupun dengan cara mengalihkan pembicaraan, hal tersebut sangat wajib untuk dilakukan. Jika tidak dilakukan, maka baginya adalah dosa.

2. Wajib

Ghibah ataupun membicarakan aib yang orang lain miliki adakalanya bersifat wajib. Hal tersebut apabila terjadi dalam suatu kondisi dimana orang yang memulai ghibah itu bisa menyelamatkan seseorang dari suatu bencana maupun potensi akan terjadinya suatu hal yang bertentangan dengan harapan. Contohnya yaitu jika ada seorang wanita ataupun pria yang sedang ingin menikah dan melakukan ta’aruf bersama calon pasangannya.

Pria atau wanita tersebut meminta nasihat dari seseorang yang dekat dengannya mengenai informasi calon pasangannya.Oleh karena itu si pemberi nasihat diwajibkan untuk memberi informasi mengenai aib atau keburukan calon pasangannya berdasarkan fakta yang telah diketahui oleh si pemberi nasihat. Selain itu misalkan si A memberitahu aib si C kepada si B, bahwa si C mempunyai rencana untuk membunuh ataupun mencuri hartanya, mencelakakan keluarganya, dan sebagainya.

Semua hal seperti itu adalah merupakan suatu berita yang termasuk ke dalam kategori untuk memberi suatu nasihat. Maka hukum dari ghibah yang satu ini adalah wajib. Sebagaimana seperti hadits yang menyatakan mengenai 6 hak seorang muslim terhadap muslim lainnya.

3. Boleh

Hukum ghibah yang ketiga adalah boleh. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Nawawi yang tercantum dalam Riyadus Shalihin 2/182, telah membagi gosip atau ghibah yang dibolehkan menjadi 6 bagian yang diantaranya yaitu:

  • At-Tazhallum yaitu orang yang merasa terzalimi oleh seseorang baik sesama muslim atau bukan, sangat dibolehkan untuk menyebutkan kezaliman-kezaliman orang tersebut terhadap dirinya. Hal ini bersifat sebagai pengaduan seseorang yang terzalimi kepada orang yang mempunyai qudrah atau kapasitas sebagai cara untuk melenyapkan kezaliman yang telah terjadi.
  • Isti’ānah yaitu meminta pertolongan kepada seseorang sebagai upaya untuk merubah ataupun menghilangkan suatu hal yang buruk berupa kemungkaran. Contohnya seperti mengatakan: ” Si Fulan telah begini kepada saya (perbuatan buruk). Tolong cegahlah dia agar tidak seperti itu lagi.”
  • Al-Istifta’ yaitu meminta nasihat dan fatwa kepada seorang mufti atau pemberi fatwa seperti suatu perkataan peminta nasihat yaitu: “Saya telah dizalimi oleh saudara atau ayah atau ibu atau suami.”
  • At-tahdzīr lil muslimīn yaitu memberi peringatan kepada orang-orang Islam dari berbagai macam perbuatan buruk dengan cara memberi nasihat.
  • Orang yang telah atau sedang menampakkan suatu perilaku maksiat atau kefasikan seperti halnya seseorang menampakkan diri ketika berbuat zina, memakai narkoba, berpacaran di depan khalayak, dan sebagainya.
  • Memberi suatu julukan kepada seseorang jika seseorang tersebut dikenal karena julukan itu.

Bahaya ghibah menurut pandangan islam

Ghibah memang merupakan suatu perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT karena tergolong ke dalam dosa besar. Ghibah ini benar-benar sebanding dengan perbuatan dosa-dosa besar lainnya seperti zina, pembunuhan, dan sebagainya. Maka adapun bahaya melakukan ghibah yang diantaranya yaitu:

1. Mendapatkan murka dari Allah SWT

Jika ada seorang muslim mempergunjingkan aib orang lain atau saudaranya sesama muslim maka dalam hal tersebut sama saja bahwa ia telah menghina ciptaan Allah. Kemudian hal itu pastinya merupakan larangan Allah maka jika melanggar larangannya sudah sepantasnya mendapat murka dari Allah SWT.

2. Hati menjadi keras

Ketika orang berghibah secara otomatis tak jarang disertai dengan umpatan-umpatan atau kata-kata kasar yang terlontar dari mulutnya. Maka dalam hal ini tentu saja bukan Allah yang ada di dalam hatinya, melainkan iblis, sehingga membuat hatinya keras tiada kelembutan lagi di dalam hatinya.

3. Pemicu terjadinya perpecahan dan pertikaian

Bagi orang yang dibicarakan tentu saja akan merasa malu karena aibnya yang selama ini sangat dirahasiakan olehnya, tiba-tiba dibeberkan oleh orang lain. Tak jarang hal itu mengakibatkan kebencian sehingga terjadi pertikaian diantaranya.

4. Berani untuk berbuat maksiat

Orang yang selalu berghibah tentu merasa senang untuk berbuat maksiat. Karena dalam hal itu orang tersebut senang menceritakan aib orang lain dan merasa senang jika saudaranya dipermalukan di depan orang lain. Sehingga ia sudah tak segan dalam berbuat maksiat.

5. Amal ibadahnya tertolak

Ghibah merupakan salah satu penyebab dari tertolaknya amal ibadah.

6. Lenyapnya amal ibadah

Dengan melakukan ghibah tanpa disadari amal ibadah yang selama ini telah dilakukan hilang atau lenyap begitu saja.